BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1       Pengertian Kontrasepsi

Kontrasepsi adalah alat yang digunakan untuk menunda, menjarangkan kehamilan, serta menghentikan kesuburan. Kontrasepsi berasal dari kata “kontra” dan “konsepsi”. Kontra berarti mencegah atau melawan, sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur (ovum) yang matang dengan sperma yang mengakibatkan kehamilan. Kontrasepsi adalah menghindari atau mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur dengan sperma tersebut (Mansjoer, 1999).

Ada dua pembagian cara kontrasepsi, yaitu cara kontrasepsi sederhana dan cara kontrasepsi modern (metode efektif) :

  1. Kontrasepsi Sederhana

Kontrasepsi sederhana terbagi lagi atas kontrasepsi tanpa alat dan kontrasepsi dengan alat/obat. Kontrasepsi sederhana tanpa alat dapat dilakukan dengan senggama terputus dan pantang berkala. Sedangkan kontrasepsi dengan alat/obat dapat dilakukan dengan menggunakan kondom, diafragma atau cup, cream, jelly atau tablet berbusa (vaginal tablet).

  1. Cara Kontrasepsi Moderen/Metode Efektif

Cara kontrasepsi ini dibedakan atas kontrasepsi tidak permanen dan kontrasepsi permanen. Kontrasepsi tidak permanen dapat dilakukan dengan pil, AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim), suntikan dan implant. Sedangkan cara kontrasepsi permanen dapat dilakukan dengan metode mantap, yaitu dengan operasi tubektomi (sterilisasi pada wanita) dan vasektomi (sterilisasi pada pria) (Mochtar, 1998).

 

2.2       Intra Uterine Device (IUD) Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)

  1. Pengertian

IUD merupakan alat kontrasepsi yang terbuat dari bahan plastik yang halus berbentuk spiral atau berbentuk lain yang dipasang di dalam rahim dengan memakai alat khusus oleh dokter atau bidan/ paramedik lain yang sudah dilatih (Irianto, 2007).

  1. Jenis IUD

Walaupun di masa lampau IUD dibuat dalam berbagai bentuk dan bahan yang berbeda-beda, dewasa ini IUD yang tersedia di seluruh dunia hanya 3 tipe :

  1. Inert, dibuat dari plastik (Lippes Loop) atau baja antikarat (The Chinese ring).
  2. TCu 380A, berbentuk huruf “T” diselubungi oleh kawat halus yang terbuat dari tembaga (Cu) tersebar di Indonesia.
  3. TCu 200C, Multiload (MLCu 250 dan 375) dan Nova T (ada di Indonesia), mengandung tembaga
  4. Mengandung hormon steroid seperti progestasert yang mengandung progesterone dan Levanova yang mengandung levonorgestrel (Irianto, 2007).

 

 

  1. Efektifitas

IUD sangat efektif,

  • Tipe Multiload dapat dipakai sampai 4 tahun.
  • Nova T dan Copper T 200 (CuT-200) dapat dipakai 3-5 tahun.
  • Cu T 380A dapat untuk 10 tahun, Bentuk ini terbukti sangat efektif, aman,dan mudah beradaptasi.

Dalam sebuah alat kontrasepsi seperti IUD memiliki kegagalan rata-rata 0,8 kehamilan per 100 pemakai wanita pada tahun pertama pemakaian (BKKBN, 2002).

Keunggulan Copper T 380A :

  • Tidak ada IUD lain yang mempunyai luas permukaan tembaga seperti IUD Copper T 380A (380 mm2)
  • Tembaga di kedua lengan IUD ini menjamin tembaga akan dibebaskan di bagian tertinggi fundus uteri.
  • Tiap kemasan IUD Copper T 380A mempunyai jangka waktu penyimpanan selama 7 tahun. Hal ini berarti bahwa setiap kemasan yang masih utuh (tidak robek) dijamin akan tetap steril sampai tanggal kadaluwarsa sebagaimana tercantum pada label kemasan. Setelah lewat tanggal kadaluwarsa, IUD dalam kemasan yang belum terpakai harus dibuang/dimusnahkan (BKKBN, 2002).

 

 

2.3       Mekanisme kerja IUD

Mekanisme kerja IUD adalah sebagai berikut :

  1. Perubahan pada endometrium yang mengakibatkan kerusakan pada spermatozoa yang masuk ke dalam rahim.
  2.  Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii.
  3. Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri.
  4. Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus (BKKBN, 2002).
  5. AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun AKDR membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi.

2.4              Keuntungan dan Kerugian KB IUD

Setiap alat kontrasepsi memiliki kelebihan dan kekurangan. Ini menjadi penting untuk kita ketahui karena sebagai tenaga kesehatan dan calon akseptor kita berhak memperoleh informasi yang benar tentang alat kontrasepsi yang akan dipilih dan digunakan.

  1. Berikut ini merupakan keuntungan dari alat kontrasepsi IUD, yaitu :
    1. Efektifitasnya tinggi. 0,6 – 0,8 kehamilan per 100 perempuan yang menggunakan IUD (1 kegagalan dalam 125 – 170 kehamilan).
    2. AKDR akan segera efektif begitu terpasang di dalam rahim.
    3. Sangat efektif karena tidak perlu mengingat-ngingat ataupun melakukan kunjungan ulang untuk menyuntik tubuh (KB suntik).
    4. Tidak mempengaruhi hubungan seksual dan dapat meningkatkan kenyamanan  berhubungan karena tidak perlu takut hamil.
    5. Tidak ada efek samping hormonal seperti halnya pada alat kontrasepsi hormonal.
    6. Tidak akan mempengaruhi kualitas dan volume ASI.
    7. Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus dengan catatan tidak terjadi infeksi.
    8. Dapat digunakan hingga masa menopause (1 tahun atau lebih setelah masa haid terakhir).
    9. Tidak ada interaksi dengan obat-obatan.
    10. Membantu mencegah kehamilan di luar kandungan.
    11. Dapat dipasang kapan saja, tidak perlu pada saat masa haid saja asal anda tidak sedang hamil atau diperkirakan hamil.
    12. Dapat dilepas jika menginginkan anak lagi, karena tidak bersifat permanen.
    13. Tidak bersifat karsinogen, yaitu dapat menyebabkan kanker karena hormon yang terkandung didalamnya (BKKBN, 2002).

 

  1. Berikut merupakan Kerugian dari alat kontrasepsi IUD, yaitu:

v  Efek samping yang umum terjadi :

1)      Keputihan

2)      Perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan akan berkurang setelah 3 bulan).

3)      Haid lebih lama dan banyak.

4)      Perdarahan (spotting) antarmenstruasi.

5)      Saat haid lebih sakit.

Penanggulangan efek samping :

  1. Kembali memeriksakan diri setelah empat sampai enam minggu pemasangan AKDR.
  2. Selama bulan pertama mempergunakan AKDR, periksalah benang AKDR secara rutin terutama setelah haid.
  3. Setelah bulan pertama pemasangan, hanya perlu memeriksakan  keberadaan benang setelah haid apabila mengalami  :

ü  Kram / kejang diperut bagian bawah.

ü  Perdarahan (spotting ) diantara haid atau setelah senggama.

ü  Nyeri setelah senggama atau apabila pasangan mengalami tidak nyaman selama  melakukan hubungan seksual.

 

 

  1. Kembali ke klinik apabila :

ü  Tidak dapat meraba benang AKDR.

ü  Merasakan bagian yang keras dari AKDR.

ü  AKDR terlepas.

ü  Siklus terganggu atau meleset.

ü  Terjadi pengeluaran cairan dari vagina yang mencurigakan.

ü  Adanya infeksi.

v  Komplikasi Lain :

1)      Akan terasa sakit dan kejang selama 3 -5 hari setelah pemasangan.

2)      Mungkin dapat menyebabkan anemia jika pendarahan pada saat haid sangat banyak.

3)      Jika pemasangan tidak benar, bisa saja terjadi perforasi dinding uterus (sangat jarang terjadi jika pemasangannya benar).

v  Tidak bisa mencegah infeksi penyakit menular seksual.

v  Tidak baik digunakan pada perempuan yang rentan terkena penyakit menular seksual karena sering berganti pasangan.

v  Jika perempuan yang terkena IMS (infeksi menular seksual) memakai IUD, dikhawatirkan akan memicu penyakit radang panggul.

 

Ketiga hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

Pada saat seorang perempuan memilih untuk ber-KB IUD, maka akan ada alat kontrasepsi yang merupakan benda asing bagi rahim.  Karena IUD ini berbahan dasar padat, maka pada saat dinding rahim bersentuhan dengan IUD bisa saja terjadi perlukaan. Hal inilah yang dapat mengakibatkan keluarnya bercak darah (spotting) di antara masa haid. Demikian pula ketika masa haid, darah yang keluar menjadi lebih banyak karena ketika haid terjadi peluruhan dinding rahim. Proses ini menimbulkan perlukaan di daerah rahim, sehingga apabila IUD mengenai daerah tersebut, maka akan menambah volume darah yang keluar pada masa haid anda. Darah yang keluar bisa dibedakan, biasanya jika spotting yang keluar adalah berwarna merah segar, sedangkan pada saat haid darah akan berwarna kecoklatan.

Jika pada saat haid anda mengalami kondisi yang lebih sakit dari biasanya, itu juga ada kaitannya dengan IUD ini. Biasanya pada saat masa haid ini rahim akan berkontraksi dan dinding rahim akan sedikit berdenyut dikarenakan ada benda asing di dalam tubuh anda. Untuk mengatasi hal ini, anda dapat mengkonsumsi obat penghilang rasa sakit yang banyak di jual bebas di apotek atau toko obat.

2.5              Keterbatasan Alat Kontrasepsi IUD

Kita perlu diketahui IUD mempunyai keterbatasan dimana agar kita dapat mempertimbangkan dan meyakinkan pemilihan alat kontrasepsi ini sebagai pilihan untuk ber-KB.

  1. Keterbatasan alat kontrasepsi IUD diantaranya yaitu :
    1. Memerlukan prosedur medis, termasuk diantaranya adalah pemeriksaan pelvik sebelum dipasang IUD, seringkali perempuan takut selama pemasangan.
    2. Sedikit nyeri setelah pemasangan, namun biasanya akan hilang dalam jangka waktu 1-2 hari.
    3. Tidak dapat dipasang dan dikeluarkan oleh anda sendiri, namun memerlukan bantuan petugas terlatih. Dalam hal ini adalah bidan atau dokter.
    4. Ada kemungkinan IUD bisa keluar dengan sendirinya dari rahim. Hal ini biasanya terjadi pada pasien yang baru saja melahirkan dan segera dilakukan pemasangan IUD. Selain itu, posisi IUD di dalam rahim juga dapat mempengaruhi apakah IUD dapat terlepas atau tidak. Namun kejadian ini sangat langka. Hanya 1 orang yang gagal dari 1000 orang yang dipasangi IUD.
    5. IUD tidak mencegah kehamilan ektopik atau kehamilan di luar kandungan, karena IUD ini hanya mencegah kehamilan normal.
    6. Anda harus memeriksa posisi benang dari waktu ke waktu. Untuk melakukan pemeriksaan ini, anda harus memasukkan jari anda ke dalam vagina. Sebagian perempuan tidak mau melaksanakan ini.

 

 

Contoh kasus keluhan dari klien yang menggunakan IUD :

  • Beberapa kasus mencatat bahwa para suami mengeluh bahwa terdapat gangguan pada saat berhubungan. Ini dapat dijelaskan bahwa benang IUD itu sebenarnya tidak boleh terlalu panjang dan keluar dari rahim. Pada kasus keluhan tersebut, benang IUD rupanya terlalu panjang dan menggantung pada lubang vagina (liang sanggama), akibatnya benang tersebut akan ‘tersentuh’ oleh suami. Inilah yang menyebabkan gangguan pada saat pasien dan pasangannya sedang melakukan koitus. Pada kasus ini sebaiknya pasien cukup mendatangi bidan atau dokter yang memasangkan IUD. Ceritakan keluhan yang dirasakan oleh suami. Untuk mengatasi masalah ini petugas medis akan melipat benangnya ke dalam rahim, sehingga benang tidak keluar dari rahim.

 

2.6              Persyaratan Pemakaian

  1. Alat kontrasepsi IUD tidak boleh digunakan oleh wanita yang memiliki kriteria sebagai berikut, yaitu :
  • Wanita yang mempunyai infeksi pelvis.
  • Wanita yang sedang menderita Penyakit Hubungan Seksual (PHS, AIDS, Gonore,Klamidia).
  • Wanita dengan banyak partner selama 3 bulan terakhir.
  • Wanita dengan kanker mulut rahim atau kanker alat reproduksi lainnya (ovarium, endometrium).
  • Wanita dengan penyakit trofoblast ganas ( Mola, Koriokarsinoma) atau TBC pelvik.
  • Sedang hamil (diketahui hamil atau kemungkinan hamil).
  • Sedang menderita infeksi alat genetalia (vaginitis, servisitis).
  • Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita abortus septic.
  • Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim yang dapat mempengaruhi kavum uteri.
  • Ukuran rongga rahim kurang dari 5cm.

 

  1. Alat kontrasepsi IUD boleh digunakan oleh wanita yang memiliki kriteria sebagai berikut, yaitu :

ü  Usia reproduktif.

ü  Keadaan nulipara.

ü  Mengiginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang.

ü  Menyusui mengiginkan menggunakan kontrasepsi.

ü  Risiko rendah dari IMS.

ü  Tidak menghendaki kontrasepsi hormonal.

ü  Tidak menyukai untuk mengingat-ingat minum pil setiap hari.

  1. AKDR dapat digunakan pada ibu dalam segala kemungkinan misalnya :
  • Perokok
    • Paska keguguran atau kegagalan kehamilan apabila tidak telihat adanya infeksi.
    • Sedang memakai antibiotika atau antikejang.
    • Gemuk ataupun yang kurus.
    • Sedang menyusui.
  1. Begitu juga Ibu dalam keadaan seperti di bawah ini :
  • Penderita tumor jinak payudara.
  • Penderita kanker payudara.
  • Pusing-pusing, sakit kepala.
  • Tekanan darah tinggi.
  • Varises ditungkai atau di vulva.
  • Penderita penyakit jantung (termasuk penyakit jantung katup dapat diberi antibiotika sebelum pemasangan AKDR).
  • Pernah menderita stroke, Penderita diabetes.
  • Penderita penyakit hati atau empedu.
  • Penyakit tiroid.
  • Epilepsi.
  • Nonpelvik TBC.
  • Setelah kehamilan ektopik.
  • Setelah pembedahan pelvik.

Catatan : semua keadaan tersebut sesuai dengan kriteria WHO.

2.7              Waktu Penggunaan IUD

  1. Setiap waktu dalam siklus haid, yang dapat dipastikan klien tidak hamil.
  2. Hari pertama sampai hari ke-7 siklus haid.
  3. Segera setelah melahirkan, selama 48 jam pertama atau setelah 4 minggu pascapersalinan, setelah 6 bulan apabila menggunakan metode amenorea laktasi (MAL). Perlu di ingat, angka ekspulsi tinggi pada pemasangan segera atau selama 48 jam pascapersalinan.
  4. Setelah menderita abortus (segera atau dalam waktu 7 hari) apabila tidak ada gejala infeksi.
  5. Selama 1-5 hari setelah senggama yang tidak dilindungi.

 

2.8              Cara penggunaan dan instruksi pemakaian kontrasepsi IUD

  1. Memberi salam sapa klien dengan ramah dan perkenalkan diri.
  2. Anamnesa.
  3. Konseling pra pemasangan AKDR/IUD.
  4. Beri penjelasan pada ibu tindakan yang akan dilakukan dan beri dukungan mental agar ibu tidak cemas.
  5. Mengisi formulir informed consent.
  6. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan : Sarung tangan steril 2 pasang, duk steril 1 buah, ring tang 1 buah, spekulum 2 buah, penster klem 1 buah, tenakulum 1 buah, sonde uterus 1 buah, gunting benang 1 buah, 2 buah kom untuk larutan DTT dan Betadine, Kassa, Kapas, Larutan klorin, Celemek, Tempat sampah, Bengkok, Lampu sorot/ senter, meja gynekolog, AKDR/IUD dalam kemasan.
  7. Pastikan ibu telah mengosongkan kandung kemih dan mencuci kemaluannya menggunakan sabun.
  8. Memasang sampiran, mengatur posisi klien secara litotomi pada meja gynekology lalu pasangkan perlak.
  9. Memakai celemek
  10. Mencuci tangan dengan sabun desinfektan dan bilas di bawah air mengalir kemudian keringkan dengan handuk.
  11. Menyiapkan kembali peralatan, membuka semua peralatan.
  12. Memakai sarung tangan steril, memasangkan duk steril di bawah bokong ibu
  13. Melakukan inspeksi alat kelamin luar untuk memeriksa adanya ulkus, pembengkakan kelenjar bartholini.
  14. Melakukan vulva higine.
  15. Memasukkan spekulum untuk memeriksa keadaan portio dan sekitarnya, adanya cairan vagina, servicitis.
  16. Mengusap portio dengan kapas betadine menggunakan penster klem.
  17. Buka kunci spekulum, dan keluarkan spekulum dengan posisi miring, lalu rendam di larutan klorin.
  18. Lakukan periksa dalam sambil tangan sebelah menekan di atas simphisis untuk  mengetahui adanya nyeri goyang atau nyeri tekan.
  19. Bersihkan sarung tangan, lalu lepaskan dan masukkan dalam larutan klorin.
  20. Mencuci tangan kembali.
  21. Membuka kemasan AKDR/IUD.
  22. Memakai sarung tangan steril kedua.
  23. Memasang spekulum yang kedua, mengusap kembali portio dengan kapas betadine menggunakan penster klem.
  24. Menjepit portio dengan posisi jam 11 atau jam 1.
  25. Memasukkan sonde uterus secara perlahan-lahan untuk mengukur kedalaman uterus. Ada 3 cara, yang pertama dengan melihat lendir serviks yang ada pada sonde uterus, yang kedua dengan menggunakan penster klem, dan yang ketiga dengan menggunakan jari telunjuk yang dimasukkan perlahan sampai ujung portio.

 

 

 

 

 

 

 

  1. Atur letak leher biru pada tabung inserter sesuai kedalaman uterus yang telah diukur dengan sonde uterus.
  2. Memasukkan tabung inserter yang sudah berisi AKDR/IUD ke dalam kanalis servikalis sampai ada tahanan.
  3. Memegang dan menahan tenakulum dengan satu tangan dan tangan lain menarik tabung inserter sampai pangkal pendorong.
  4. Mengeluarkan pendorong dengan tetap memegang dan menahan tabung inserter setelah pendorong keluar.
  5. Mengeluarkan sebagian tabung inserter dari kanalis servikalis, potong benang saat tampak keluar dari lubang tabung 3-4 cm.
  6. Melepaskan tenakulum dan menekan bekas jeputan dengan kasa betadine sampai perdarahan berhenti.
  7. Buka kunci spekulum, dan keluarkan spekulum dengan posisi miring, lalu rendam di larutan klorin.

 

 

 

 

  1. Masukkan peralatan lain ke dalam larutan klorin.
  2. Cuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir dan keringkan dengan handuk bersih.
  3. Catat semua hasil tindakan Dokumentasi.
  4. Ajarkan klien bagaimana memeriksa benang AKDR/IUD dengan cara memasukkan jari tengah dan telunjuknya ke dalam vagina untuk meraba benang IUD/AKDR yang terselip di depan portio/leher rahim. Meminta klien menunggu di klinik selama 15-30 menit setelah pemasangan AKDR/IUD untuk mengamati bila terjadi rasa sakit pada perut, mual muntah atau ada indikasi lain yang memungkinkan AKDR/IUD dicabut kembali bila dengan analgesic rasa sakit tersebut tidak juga hilang.

2.9              Pencabutan AKDR

Kapan AKDR dapat dikeluarkan

  1. Bila ibu menginginkannya.
  2. Bila ibu ingin hamil.
  3. Bila terdapat efek samping yang menetap atau masalah kesehatan lainnya.
  4. Pada akhir masa efektif dari AKDR. Misalnya TCu 380A harus dikeluarkan sesudah 8 tahun terpasang.
  5. Untuk mengeluarkan/mencabut AKDR ibu harus kembali keklinik. Kesuburan atau fertilitas normal segera kembali sesudah AKDR dicabut. Jika ibu tidak ingin hamil, maka AKDR yang baru dapat segera dipasang (BKKBN, 2002).

v  Cara Pencabutan AKDR

  1. Memberi salam, sapa klien dengan ramah dan perkenalkan diri.
  2. Anamnesa.
  3. Konseling pra pencabutan.
  4. Mengisi formulir informed consent.
  5. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan : Sarung tangan steril 2 pasang, duk steril 1 buah, ring tang 1 buah, spekulum 2 buah, penster klem 1 buah, tenakulum 1 buah, 1 buah tang buaya/aligator (Pencabut AKDR/IUD), 2 buah kom untuk larutan DTT dan Betadine, Kassa, Kapas, Larutan klorin, Celemek, Tempat sampah, Bengkok, Lampu sorot/ senter, meja gynekolog.
  6. Pastikan ibu telah mengosongkan kandung kemih dan mencuci kemaluannya menggunakan sabun.
  7. Memasang sampiran, mengatur posisi klien secara litotomi pada meja gynekology lalu pasangkan perlak.
  8. Mencuci tangan, memakai sarung tangan steril, pasangkan duk steril di bawah bokong ibu.
  9. Lakukan pemeriksaan bimanual untuk memastikan gerakan serviks, memastikan tidak ada infeksi atau tumor.
  10. Memasang spekulum vagina untuk melihat serviks.
  11. Mengusap vagina dan serviks dengan kassa betadine menggunakan penster klem.
  12. Menarik benang AKDR/IUD yang tampak dengan tang buaya/aligator (pencabut) secara mantap dan hati-hati untuk mengeluarkan AKDR/IUD.
  13. Tunjukkan AKDR/IUD tersebut pada ibu kemudian rendam dengan larutan klorin.
  14. Keluarkan spekulum.
  15. Rendam semua peralatan yang sudah dipakai ke dalam larutan klorin.
  16. Buang bahan-bahan yang sudah tidak dapat dipakai lagi.
  17. Lepaskan sarung tangan lalu rendam di larutan klorin.
  18. Cuci tangan.
  19. Amati klien selama 5 menit sebelum diperbolehkan pulang.
  20. Diskusikan apa yang harus dilakukan bila klien mengalami masalahMinta klien untuk mengulangi kembali penjelasan yang telah diberikan.
  21. Jawab semua pertanyaan klien.
  22. Catat semua tindakan di rekam medik tentang pencabutan.

 

 

BAB III

Penutup

3.1        Kesimpulan

Kontrasepsi adalah alat yang digunakan untuk menunda, menjarangkan kehamilan, serta menghentikan kesuburan. Ada dua pembagian cara kontrasepsi, yaitu cara kontrasepsi sederhana dan cara kontrasepsi modern (metode efektif).

IUD merupakan alat kontrasepsi yang terbuat dari bahan plastik yang halus berbentuk spiral atau berbentuk lain yang dipasang di dalam rahim dengan memakai alat khusus oleh dokter atau bidan/ paramedik lain yang sudah dilatih (Irianto, 2007).

Dewasa ini IUD yang tersedia di seluruh dunia hanya 3 tipe :

  • Inert, dibuat dari plastik (Lippes Loop) atau baja antikarat (The Chinese ring),
  • Mengandung tembaga, termasuk di sini TCu 380A, TCu 200C, Multiload (MLCu 250 dan 375) dan Nova T
  • Mengandung hormon steroid

Adapun keuntungan dari alat kontrasepsi IUD, yaitu :

  • Efektifitasnya tinggi. 0,6 – 0,8 kehamilan per 100
  • Akan segera efektif begitu terpasang di dalam rahim.
  • Tidak perlu mengingat-ngingat ataupun melakukan kunjungan ulang untuk menyuntik tubuh (KB suntik).
  • Tidak mempengaruhi hubungan seksual dan dapat meningkatkan kenyamanan  berhubungan karena tidak perlu takut hamil.

 

 

 

Namun adapula keterbatasan alat kontrasepsi IUD diantaranya yaitu :

  • Memerlukan prosedur medis
  • Sedikit nyeri setelah pemasangan, namun biasanya akan hilang dalam jangka waktu 1-2 hari.
  • Tidak dapat dipasang dan dikeluarkan oleh anda sendiri,.
  • Ada kemungkinan IUD bisa keluar dengan sendirinya dari rahim.
  • IUD tidak mencegah kehamilan ektopik atau kehamilan di luar kandungan,
  • Anda harus memeriksa posisi benang dari waktu ke waktu.

 

3.2         Saran

  1. Semoga dengan adanya alat kontrasepsi seperti IUD akan menurunkan angka kelahiran yang meningkat ini.
  2. Mengingat banyaknya resiko yang terjadi apabila tidak memakai kontrasepsi
  3. Semoga makalah ini dapat di pergunakan sebagaimana mestinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

http://bundanyayesha.multiply.com/journal/item/4?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem. Di unduh pada Tanggal 11 Maret 2012. Pukul 11.15 WIB.

http://creasoft.wordpress.com/2008/04/15/alat-kontrasepsi-dalam-rahim/. Diunduh pada tanggal 12 Maret 2012. Pukul 13.00 WIB.

Saifuddin, Abdul Bari.2006.Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi.Jakarta: Yayasan bina pustaka sarwono prawihardjo.

http://tentangkb.wordpress.com/2010/07/04/tentang-iud-4-keuntungan-kerugiannya/. Diunduh pada Tanggal 11 Maret 2012. Pukul 11.00 WIB.

http://temboktiar.blogspot.com/2011/07/makalah-kontrasepsi-iudakdr-dilengkapi.html.(diposting oleh Ratih Anjany tanggal 08 Juli 2011). Diunduh tanggal 15 maret 2012. Pukul 08.50WIB.