Latest Entries »

tarif ongkir via JNE ^.^

Tarif JNE 1 Juni Edit

Tarif JNE 1 Juni Edit

30rb

30rb

bismilahirrahmanirrahim

jika ada yang minat boleh sms : 08975700906

harga yang tercantum belum termasuk ongkir ya kawa

sarung galon 80rb sarung tissue 35rb phone holder 35 rb tas pensil 45rb  silahkan order

sarung galon 80rb
sarung tissue 35rb
phone holder 35 rb
tas pensil 45rb
silahkan order

80rb ^.^

80rb ^.^

35rb

35rb

sarung galon 80rb tas kosmetik 45rb kursi balon 55rb

sarung galon 80rb
tas kosmetik 45rb
kursi balon 55rb

n ^.^

harga 35rb belum termasuk ongkir ^.^

harga 35rb belum termasuk ongkir ^.^

80rb ^.^

80rb ^.^

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1       Pengertian Kontrasepsi

Kontrasepsi adalah alat yang digunakan untuk menunda, menjarangkan kehamilan, serta menghentikan kesuburan. Kontrasepsi berasal dari kata “kontra” dan “konsepsi”. Kontra berarti mencegah atau melawan, sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur (ovum) yang matang dengan sperma yang mengakibatkan kehamilan. Kontrasepsi adalah menghindari atau mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur dengan sperma tersebut (Mansjoer, 1999).

Ada dua pembagian cara kontrasepsi, yaitu cara kontrasepsi sederhana dan cara kontrasepsi modern (metode efektif) :

  1. Kontrasepsi Sederhana

Kontrasepsi sederhana terbagi lagi atas kontrasepsi tanpa alat dan kontrasepsi dengan alat/obat. Kontrasepsi sederhana tanpa alat dapat dilakukan dengan senggama terputus dan pantang berkala. Sedangkan kontrasepsi dengan alat/obat dapat dilakukan dengan menggunakan kondom, diafragma atau cup, cream, jelly atau tablet berbusa (vaginal tablet).

  1. Cara Kontrasepsi Moderen/Metode Efektif

Cara kontrasepsi ini dibedakan atas kontrasepsi tidak permanen dan kontrasepsi permanen. Kontrasepsi tidak permanen dapat dilakukan dengan pil, AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim), suntikan dan implant. Sedangkan cara kontrasepsi permanen dapat dilakukan dengan metode mantap, yaitu dengan operasi tubektomi (sterilisasi pada wanita) dan vasektomi (sterilisasi pada pria) (Mochtar, 1998).

 

2.2       Intra Uterine Device (IUD) Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)

  1. Pengertian

IUD merupakan alat kontrasepsi yang terbuat dari bahan plastik yang halus berbentuk spiral atau berbentuk lain yang dipasang di dalam rahim dengan memakai alat khusus oleh dokter atau bidan/ paramedik lain yang sudah dilatih (Irianto, 2007).

  1. Jenis IUD

Walaupun di masa lampau IUD dibuat dalam berbagai bentuk dan bahan yang berbeda-beda, dewasa ini IUD yang tersedia di seluruh dunia hanya 3 tipe :

  1. Inert, dibuat dari plastik (Lippes Loop) atau baja antikarat (The Chinese ring).
  2. TCu 380A, berbentuk huruf “T” diselubungi oleh kawat halus yang terbuat dari tembaga (Cu) tersebar di Indonesia.
  3. TCu 200C, Multiload (MLCu 250 dan 375) dan Nova T (ada di Indonesia), mengandung tembaga
  4. Mengandung hormon steroid seperti progestasert yang mengandung progesterone dan Levanova yang mengandung levonorgestrel (Irianto, 2007).

 

 

  1. Efektifitas

IUD sangat efektif,

  • Tipe Multiload dapat dipakai sampai 4 tahun.
  • Nova T dan Copper T 200 (CuT-200) dapat dipakai 3-5 tahun.
  • Cu T 380A dapat untuk 10 tahun, Bentuk ini terbukti sangat efektif, aman,dan mudah beradaptasi.

Dalam sebuah alat kontrasepsi seperti IUD memiliki kegagalan rata-rata 0,8 kehamilan per 100 pemakai wanita pada tahun pertama pemakaian (BKKBN, 2002).

Keunggulan Copper T 380A :

  • Tidak ada IUD lain yang mempunyai luas permukaan tembaga seperti IUD Copper T 380A (380 mm2)
  • Tembaga di kedua lengan IUD ini menjamin tembaga akan dibebaskan di bagian tertinggi fundus uteri.
  • Tiap kemasan IUD Copper T 380A mempunyai jangka waktu penyimpanan selama 7 tahun. Hal ini berarti bahwa setiap kemasan yang masih utuh (tidak robek) dijamin akan tetap steril sampai tanggal kadaluwarsa sebagaimana tercantum pada label kemasan. Setelah lewat tanggal kadaluwarsa, IUD dalam kemasan yang belum terpakai harus dibuang/dimusnahkan (BKKBN, 2002).

 

 

2.3       Mekanisme kerja IUD

Mekanisme kerja IUD adalah sebagai berikut :

  1. Perubahan pada endometrium yang mengakibatkan kerusakan pada spermatozoa yang masuk ke dalam rahim.
  2.  Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii.
  3. Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri.
  4. Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus (BKKBN, 2002).
  5. AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun AKDR membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi.

2.4              Keuntungan dan Kerugian KB IUD

Setiap alat kontrasepsi memiliki kelebihan dan kekurangan. Ini menjadi penting untuk kita ketahui karena sebagai tenaga kesehatan dan calon akseptor kita berhak memperoleh informasi yang benar tentang alat kontrasepsi yang akan dipilih dan digunakan.

  1. Berikut ini merupakan keuntungan dari alat kontrasepsi IUD, yaitu :
    1. Efektifitasnya tinggi. 0,6 – 0,8 kehamilan per 100 perempuan yang menggunakan IUD (1 kegagalan dalam 125 – 170 kehamilan).
    2. AKDR akan segera efektif begitu terpasang di dalam rahim.
    3. Sangat efektif karena tidak perlu mengingat-ngingat ataupun melakukan kunjungan ulang untuk menyuntik tubuh (KB suntik).
    4. Tidak mempengaruhi hubungan seksual dan dapat meningkatkan kenyamanan  berhubungan karena tidak perlu takut hamil.
    5. Tidak ada efek samping hormonal seperti halnya pada alat kontrasepsi hormonal.
    6. Tidak akan mempengaruhi kualitas dan volume ASI.
    7. Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus dengan catatan tidak terjadi infeksi.
    8. Dapat digunakan hingga masa menopause (1 tahun atau lebih setelah masa haid terakhir).
    9. Tidak ada interaksi dengan obat-obatan.
    10. Membantu mencegah kehamilan di luar kandungan.
    11. Dapat dipasang kapan saja, tidak perlu pada saat masa haid saja asal anda tidak sedang hamil atau diperkirakan hamil.
    12. Dapat dilepas jika menginginkan anak lagi, karena tidak bersifat permanen.
    13. Tidak bersifat karsinogen, yaitu dapat menyebabkan kanker karena hormon yang terkandung didalamnya (BKKBN, 2002).

 

  1. Berikut merupakan Kerugian dari alat kontrasepsi IUD, yaitu:

v  Efek samping yang umum terjadi :

1)      Keputihan

2)      Perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan akan berkurang setelah 3 bulan).

3)      Haid lebih lama dan banyak.

4)      Perdarahan (spotting) antarmenstruasi.

5)      Saat haid lebih sakit.

Penanggulangan efek samping :

  1. Kembali memeriksakan diri setelah empat sampai enam minggu pemasangan AKDR.
  2. Selama bulan pertama mempergunakan AKDR, periksalah benang AKDR secara rutin terutama setelah haid.
  3. Setelah bulan pertama pemasangan, hanya perlu memeriksakan  keberadaan benang setelah haid apabila mengalami  :

ü  Kram / kejang diperut bagian bawah.

ü  Perdarahan (spotting ) diantara haid atau setelah senggama.

ü  Nyeri setelah senggama atau apabila pasangan mengalami tidak nyaman selama  melakukan hubungan seksual.

 

 

  1. Kembali ke klinik apabila :

ü  Tidak dapat meraba benang AKDR.

ü  Merasakan bagian yang keras dari AKDR.

ü  AKDR terlepas.

ü  Siklus terganggu atau meleset.

ü  Terjadi pengeluaran cairan dari vagina yang mencurigakan.

ü  Adanya infeksi.

v  Komplikasi Lain :

1)      Akan terasa sakit dan kejang selama 3 -5 hari setelah pemasangan.

2)      Mungkin dapat menyebabkan anemia jika pendarahan pada saat haid sangat banyak.

3)      Jika pemasangan tidak benar, bisa saja terjadi perforasi dinding uterus (sangat jarang terjadi jika pemasangannya benar).

v  Tidak bisa mencegah infeksi penyakit menular seksual.

v  Tidak baik digunakan pada perempuan yang rentan terkena penyakit menular seksual karena sering berganti pasangan.

v  Jika perempuan yang terkena IMS (infeksi menular seksual) memakai IUD, dikhawatirkan akan memicu penyakit radang panggul.

 

Ketiga hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

Pada saat seorang perempuan memilih untuk ber-KB IUD, maka akan ada alat kontrasepsi yang merupakan benda asing bagi rahim.  Karena IUD ini berbahan dasar padat, maka pada saat dinding rahim bersentuhan dengan IUD bisa saja terjadi perlukaan. Hal inilah yang dapat mengakibatkan keluarnya bercak darah (spotting) di antara masa haid. Demikian pula ketika masa haid, darah yang keluar menjadi lebih banyak karena ketika haid terjadi peluruhan dinding rahim. Proses ini menimbulkan perlukaan di daerah rahim, sehingga apabila IUD mengenai daerah tersebut, maka akan menambah volume darah yang keluar pada masa haid anda. Darah yang keluar bisa dibedakan, biasanya jika spotting yang keluar adalah berwarna merah segar, sedangkan pada saat haid darah akan berwarna kecoklatan.

Jika pada saat haid anda mengalami kondisi yang lebih sakit dari biasanya, itu juga ada kaitannya dengan IUD ini. Biasanya pada saat masa haid ini rahim akan berkontraksi dan dinding rahim akan sedikit berdenyut dikarenakan ada benda asing di dalam tubuh anda. Untuk mengatasi hal ini, anda dapat mengkonsumsi obat penghilang rasa sakit yang banyak di jual bebas di apotek atau toko obat.

2.5              Keterbatasan Alat Kontrasepsi IUD

Kita perlu diketahui IUD mempunyai keterbatasan dimana agar kita dapat mempertimbangkan dan meyakinkan pemilihan alat kontrasepsi ini sebagai pilihan untuk ber-KB.

  1. Keterbatasan alat kontrasepsi IUD diantaranya yaitu :
    1. Memerlukan prosedur medis, termasuk diantaranya adalah pemeriksaan pelvik sebelum dipasang IUD, seringkali perempuan takut selama pemasangan.
    2. Sedikit nyeri setelah pemasangan, namun biasanya akan hilang dalam jangka waktu 1-2 hari.
    3. Tidak dapat dipasang dan dikeluarkan oleh anda sendiri, namun memerlukan bantuan petugas terlatih. Dalam hal ini adalah bidan atau dokter.
    4. Ada kemungkinan IUD bisa keluar dengan sendirinya dari rahim. Hal ini biasanya terjadi pada pasien yang baru saja melahirkan dan segera dilakukan pemasangan IUD. Selain itu, posisi IUD di dalam rahim juga dapat mempengaruhi apakah IUD dapat terlepas atau tidak. Namun kejadian ini sangat langka. Hanya 1 orang yang gagal dari 1000 orang yang dipasangi IUD.
    5. IUD tidak mencegah kehamilan ektopik atau kehamilan di luar kandungan, karena IUD ini hanya mencegah kehamilan normal.
    6. Anda harus memeriksa posisi benang dari waktu ke waktu. Untuk melakukan pemeriksaan ini, anda harus memasukkan jari anda ke dalam vagina. Sebagian perempuan tidak mau melaksanakan ini.

 

 

Contoh kasus keluhan dari klien yang menggunakan IUD :

  • Beberapa kasus mencatat bahwa para suami mengeluh bahwa terdapat gangguan pada saat berhubungan. Ini dapat dijelaskan bahwa benang IUD itu sebenarnya tidak boleh terlalu panjang dan keluar dari rahim. Pada kasus keluhan tersebut, benang IUD rupanya terlalu panjang dan menggantung pada lubang vagina (liang sanggama), akibatnya benang tersebut akan ‘tersentuh’ oleh suami. Inilah yang menyebabkan gangguan pada saat pasien dan pasangannya sedang melakukan koitus. Pada kasus ini sebaiknya pasien cukup mendatangi bidan atau dokter yang memasangkan IUD. Ceritakan keluhan yang dirasakan oleh suami. Untuk mengatasi masalah ini petugas medis akan melipat benangnya ke dalam rahim, sehingga benang tidak keluar dari rahim.

 

2.6              Persyaratan Pemakaian

  1. Alat kontrasepsi IUD tidak boleh digunakan oleh wanita yang memiliki kriteria sebagai berikut, yaitu :
  • Wanita yang mempunyai infeksi pelvis.
  • Wanita yang sedang menderita Penyakit Hubungan Seksual (PHS, AIDS, Gonore,Klamidia).
  • Wanita dengan banyak partner selama 3 bulan terakhir.
  • Wanita dengan kanker mulut rahim atau kanker alat reproduksi lainnya (ovarium, endometrium).
  • Wanita dengan penyakit trofoblast ganas ( Mola, Koriokarsinoma) atau TBC pelvik.
  • Sedang hamil (diketahui hamil atau kemungkinan hamil).
  • Sedang menderita infeksi alat genetalia (vaginitis, servisitis).
  • Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita abortus septic.
  • Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim yang dapat mempengaruhi kavum uteri.
  • Ukuran rongga rahim kurang dari 5cm.

 

  1. Alat kontrasepsi IUD boleh digunakan oleh wanita yang memiliki kriteria sebagai berikut, yaitu :

ü  Usia reproduktif.

ü  Keadaan nulipara.

ü  Mengiginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang.

ü  Menyusui mengiginkan menggunakan kontrasepsi.

ü  Risiko rendah dari IMS.

ü  Tidak menghendaki kontrasepsi hormonal.

ü  Tidak menyukai untuk mengingat-ingat minum pil setiap hari.

  1. AKDR dapat digunakan pada ibu dalam segala kemungkinan misalnya :
  • Perokok
    • Paska keguguran atau kegagalan kehamilan apabila tidak telihat adanya infeksi.
    • Sedang memakai antibiotika atau antikejang.
    • Gemuk ataupun yang kurus.
    • Sedang menyusui.
  1. Begitu juga Ibu dalam keadaan seperti di bawah ini :
  • Penderita tumor jinak payudara.
  • Penderita kanker payudara.
  • Pusing-pusing, sakit kepala.
  • Tekanan darah tinggi.
  • Varises ditungkai atau di vulva.
  • Penderita penyakit jantung (termasuk penyakit jantung katup dapat diberi antibiotika sebelum pemasangan AKDR).
  • Pernah menderita stroke, Penderita diabetes.
  • Penderita penyakit hati atau empedu.
  • Penyakit tiroid.
  • Epilepsi.
  • Nonpelvik TBC.
  • Setelah kehamilan ektopik.
  • Setelah pembedahan pelvik.

Catatan : semua keadaan tersebut sesuai dengan kriteria WHO.

2.7              Waktu Penggunaan IUD

  1. Setiap waktu dalam siklus haid, yang dapat dipastikan klien tidak hamil.
  2. Hari pertama sampai hari ke-7 siklus haid.
  3. Segera setelah melahirkan, selama 48 jam pertama atau setelah 4 minggu pascapersalinan, setelah 6 bulan apabila menggunakan metode amenorea laktasi (MAL). Perlu di ingat, angka ekspulsi tinggi pada pemasangan segera atau selama 48 jam pascapersalinan.
  4. Setelah menderita abortus (segera atau dalam waktu 7 hari) apabila tidak ada gejala infeksi.
  5. Selama 1-5 hari setelah senggama yang tidak dilindungi.

 

2.8              Cara penggunaan dan instruksi pemakaian kontrasepsi IUD

  1. Memberi salam sapa klien dengan ramah dan perkenalkan diri.
  2. Anamnesa.
  3. Konseling pra pemasangan AKDR/IUD.
  4. Beri penjelasan pada ibu tindakan yang akan dilakukan dan beri dukungan mental agar ibu tidak cemas.
  5. Mengisi formulir informed consent.
  6. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan : Sarung tangan steril 2 pasang, duk steril 1 buah, ring tang 1 buah, spekulum 2 buah, penster klem 1 buah, tenakulum 1 buah, sonde uterus 1 buah, gunting benang 1 buah, 2 buah kom untuk larutan DTT dan Betadine, Kassa, Kapas, Larutan klorin, Celemek, Tempat sampah, Bengkok, Lampu sorot/ senter, meja gynekolog, AKDR/IUD dalam kemasan.
  7. Pastikan ibu telah mengosongkan kandung kemih dan mencuci kemaluannya menggunakan sabun.
  8. Memasang sampiran, mengatur posisi klien secara litotomi pada meja gynekology lalu pasangkan perlak.
  9. Memakai celemek
  10. Mencuci tangan dengan sabun desinfektan dan bilas di bawah air mengalir kemudian keringkan dengan handuk.
  11. Menyiapkan kembali peralatan, membuka semua peralatan.
  12. Memakai sarung tangan steril, memasangkan duk steril di bawah bokong ibu
  13. Melakukan inspeksi alat kelamin luar untuk memeriksa adanya ulkus, pembengkakan kelenjar bartholini.
  14. Melakukan vulva higine.
  15. Memasukkan spekulum untuk memeriksa keadaan portio dan sekitarnya, adanya cairan vagina, servicitis.
  16. Mengusap portio dengan kapas betadine menggunakan penster klem.
  17. Buka kunci spekulum, dan keluarkan spekulum dengan posisi miring, lalu rendam di larutan klorin.
  18. Lakukan periksa dalam sambil tangan sebelah menekan di atas simphisis untuk  mengetahui adanya nyeri goyang atau nyeri tekan.
  19. Bersihkan sarung tangan, lalu lepaskan dan masukkan dalam larutan klorin.
  20. Mencuci tangan kembali.
  21. Membuka kemasan AKDR/IUD.
  22. Memakai sarung tangan steril kedua.
  23. Memasang spekulum yang kedua, mengusap kembali portio dengan kapas betadine menggunakan penster klem.
  24. Menjepit portio dengan posisi jam 11 atau jam 1.
  25. Memasukkan sonde uterus secara perlahan-lahan untuk mengukur kedalaman uterus. Ada 3 cara, yang pertama dengan melihat lendir serviks yang ada pada sonde uterus, yang kedua dengan menggunakan penster klem, dan yang ketiga dengan menggunakan jari telunjuk yang dimasukkan perlahan sampai ujung portio.

 

 

 

 

 

 

 

  1. Atur letak leher biru pada tabung inserter sesuai kedalaman uterus yang telah diukur dengan sonde uterus.
  2. Memasukkan tabung inserter yang sudah berisi AKDR/IUD ke dalam kanalis servikalis sampai ada tahanan.
  3. Memegang dan menahan tenakulum dengan satu tangan dan tangan lain menarik tabung inserter sampai pangkal pendorong.
  4. Mengeluarkan pendorong dengan tetap memegang dan menahan tabung inserter setelah pendorong keluar.
  5. Mengeluarkan sebagian tabung inserter dari kanalis servikalis, potong benang saat tampak keluar dari lubang tabung 3-4 cm.
  6. Melepaskan tenakulum dan menekan bekas jeputan dengan kasa betadine sampai perdarahan berhenti.
  7. Buka kunci spekulum, dan keluarkan spekulum dengan posisi miring, lalu rendam di larutan klorin.

 

 

 

 

  1. Masukkan peralatan lain ke dalam larutan klorin.
  2. Cuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir dan keringkan dengan handuk bersih.
  3. Catat semua hasil tindakan Dokumentasi.
  4. Ajarkan klien bagaimana memeriksa benang AKDR/IUD dengan cara memasukkan jari tengah dan telunjuknya ke dalam vagina untuk meraba benang IUD/AKDR yang terselip di depan portio/leher rahim. Meminta klien menunggu di klinik selama 15-30 menit setelah pemasangan AKDR/IUD untuk mengamati bila terjadi rasa sakit pada perut, mual muntah atau ada indikasi lain yang memungkinkan AKDR/IUD dicabut kembali bila dengan analgesic rasa sakit tersebut tidak juga hilang.

2.9              Pencabutan AKDR

Kapan AKDR dapat dikeluarkan

  1. Bila ibu menginginkannya.
  2. Bila ibu ingin hamil.
  3. Bila terdapat efek samping yang menetap atau masalah kesehatan lainnya.
  4. Pada akhir masa efektif dari AKDR. Misalnya TCu 380A harus dikeluarkan sesudah 8 tahun terpasang.
  5. Untuk mengeluarkan/mencabut AKDR ibu harus kembali keklinik. Kesuburan atau fertilitas normal segera kembali sesudah AKDR dicabut. Jika ibu tidak ingin hamil, maka AKDR yang baru dapat segera dipasang (BKKBN, 2002).

v  Cara Pencabutan AKDR

  1. Memberi salam, sapa klien dengan ramah dan perkenalkan diri.
  2. Anamnesa.
  3. Konseling pra pencabutan.
  4. Mengisi formulir informed consent.
  5. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan : Sarung tangan steril 2 pasang, duk steril 1 buah, ring tang 1 buah, spekulum 2 buah, penster klem 1 buah, tenakulum 1 buah, 1 buah tang buaya/aligator (Pencabut AKDR/IUD), 2 buah kom untuk larutan DTT dan Betadine, Kassa, Kapas, Larutan klorin, Celemek, Tempat sampah, Bengkok, Lampu sorot/ senter, meja gynekolog.
  6. Pastikan ibu telah mengosongkan kandung kemih dan mencuci kemaluannya menggunakan sabun.
  7. Memasang sampiran, mengatur posisi klien secara litotomi pada meja gynekology lalu pasangkan perlak.
  8. Mencuci tangan, memakai sarung tangan steril, pasangkan duk steril di bawah bokong ibu.
  9. Lakukan pemeriksaan bimanual untuk memastikan gerakan serviks, memastikan tidak ada infeksi atau tumor.
  10. Memasang spekulum vagina untuk melihat serviks.
  11. Mengusap vagina dan serviks dengan kassa betadine menggunakan penster klem.
  12. Menarik benang AKDR/IUD yang tampak dengan tang buaya/aligator (pencabut) secara mantap dan hati-hati untuk mengeluarkan AKDR/IUD.
  13. Tunjukkan AKDR/IUD tersebut pada ibu kemudian rendam dengan larutan klorin.
  14. Keluarkan spekulum.
  15. Rendam semua peralatan yang sudah dipakai ke dalam larutan klorin.
  16. Buang bahan-bahan yang sudah tidak dapat dipakai lagi.
  17. Lepaskan sarung tangan lalu rendam di larutan klorin.
  18. Cuci tangan.
  19. Amati klien selama 5 menit sebelum diperbolehkan pulang.
  20. Diskusikan apa yang harus dilakukan bila klien mengalami masalahMinta klien untuk mengulangi kembali penjelasan yang telah diberikan.
  21. Jawab semua pertanyaan klien.
  22. Catat semua tindakan di rekam medik tentang pencabutan.

 

 

BAB III

Penutup

3.1        Kesimpulan

Kontrasepsi adalah alat yang digunakan untuk menunda, menjarangkan kehamilan, serta menghentikan kesuburan. Ada dua pembagian cara kontrasepsi, yaitu cara kontrasepsi sederhana dan cara kontrasepsi modern (metode efektif).

IUD merupakan alat kontrasepsi yang terbuat dari bahan plastik yang halus berbentuk spiral atau berbentuk lain yang dipasang di dalam rahim dengan memakai alat khusus oleh dokter atau bidan/ paramedik lain yang sudah dilatih (Irianto, 2007).

Dewasa ini IUD yang tersedia di seluruh dunia hanya 3 tipe :

  • Inert, dibuat dari plastik (Lippes Loop) atau baja antikarat (The Chinese ring),
  • Mengandung tembaga, termasuk di sini TCu 380A, TCu 200C, Multiload (MLCu 250 dan 375) dan Nova T
  • Mengandung hormon steroid

Adapun keuntungan dari alat kontrasepsi IUD, yaitu :

  • Efektifitasnya tinggi. 0,6 – 0,8 kehamilan per 100
  • Akan segera efektif begitu terpasang di dalam rahim.
  • Tidak perlu mengingat-ngingat ataupun melakukan kunjungan ulang untuk menyuntik tubuh (KB suntik).
  • Tidak mempengaruhi hubungan seksual dan dapat meningkatkan kenyamanan  berhubungan karena tidak perlu takut hamil.

 

 

 

Namun adapula keterbatasan alat kontrasepsi IUD diantaranya yaitu :

  • Memerlukan prosedur medis
  • Sedikit nyeri setelah pemasangan, namun biasanya akan hilang dalam jangka waktu 1-2 hari.
  • Tidak dapat dipasang dan dikeluarkan oleh anda sendiri,.
  • Ada kemungkinan IUD bisa keluar dengan sendirinya dari rahim.
  • IUD tidak mencegah kehamilan ektopik atau kehamilan di luar kandungan,
  • Anda harus memeriksa posisi benang dari waktu ke waktu.

 

3.2         Saran

  1. Semoga dengan adanya alat kontrasepsi seperti IUD akan menurunkan angka kelahiran yang meningkat ini.
  2. Mengingat banyaknya resiko yang terjadi apabila tidak memakai kontrasepsi
  3. Semoga makalah ini dapat di pergunakan sebagaimana mestinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

http://bundanyayesha.multiply.com/journal/item/4?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem. Di unduh pada Tanggal 11 Maret 2012. Pukul 11.15 WIB.

http://creasoft.wordpress.com/2008/04/15/alat-kontrasepsi-dalam-rahim/. Diunduh pada tanggal 12 Maret 2012. Pukul 13.00 WIB.

Saifuddin, Abdul Bari.2006.Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi.Jakarta: Yayasan bina pustaka sarwono prawihardjo.

http://tentangkb.wordpress.com/2010/07/04/tentang-iud-4-keuntungan-kerugiannya/. Diunduh pada Tanggal 11 Maret 2012. Pukul 11.00 WIB.

http://temboktiar.blogspot.com/2011/07/makalah-kontrasepsi-iudakdr-dilengkapi.html.(diposting oleh Ratih Anjany tanggal 08 Juli 2011). Diunduh tanggal 15 maret 2012. Pukul 08.50WIB.

Pengujian Chi-Kuadrat (x2)

1)      Pendahuluan

Chi-kuadrat digunakan untuk mengadakan pendekatan dari beberapa vaktor atau mngevaluasi frekuensi yang diselidiki atau frekuensi hasil observasi dengan frekuensi yang diharapkan dari sampel apakah terdapat hubungan atau perbedaan yang signifikan atau tidak.

Dalam statistik, distribusi chi square termasuk dalam statistik nonparametrik. Distribusi nonparametrik adalah distribusi dimana besaran-besaran populasi tidak diketahui. Distribusi ini sangat bermanfaat dalam melakukan analisis statistik jika kita tidak memiliki informasi tentang populasi atau jika asumsi-asumsi yang dipersyaratkan untuk penggunaan statistik parametrik tidak terpenuhi.

Beberapa hal yang perlu diketahui berkenaan dengan distribusi chi square adalah :

  • Distribusi  chi-square memiliki satu parameter yaitu derajat  bebas (db).
  • Nilai-nilai chi square di mulai dari 0 disebelah kiri, sampai nilai-nilai positif tak terhingga di sebelah kanan.
  • Probabilitas nilai chi square di mulai dari sisi sebelah kanan.
  • Luas daerah di bawah kurva normal adalah 1.

a)      Uji Kecocokan = Uji Kebaikan Suai = Goodness of Fit

b)      Uji Kebebasan

c)      Uji Beberapa Proporsi (Prinsip pengerjaan (b) dan (c) sama saja)

Nilai chi square adalah nilai kuadrat karena itu nilai chi square selalu positif. Bentuk distribusi chi square tergantung dari derajat bebas (Db)/degree of freedom. Pengertian pada uji chi square sama dengan pengujian hipotesis yang lain, yaitu luas daerah penolakan Ho atau taraf nyata pengujian

Metode Chi-kuadrat menggunakan data nominal, data tersebut diperoleh dari hasil menghitung. Sedangkan besarnya nilai chi-kuadrat bukan merupakan ukuran derajat hubungan atau perbedaan.

Macam-macam bentuk analisa Chi-kuadrat :

  • Penaksiran standar deviasi
  • Pengujian hipotesis standar deviasi
  • Pengujian hipotesis perbedaan beberapa proporsi atau chi-square dari data multinominal
  • Uji hipotesis tentang ketergantungan suatu variabel terhadap variabel lain/uji Chi-square dari tabel kontingensi/tabel dwikasta/tabel silang
  • Uji hipotesis kesesuaian bentuk kurva distribusi frekuensi terhadap distribusi peluang teoritisnya atau uji Chi-square tentang goodness of fit

 

2)      Ketentuan Pemakaian Chi-Kuadrat (X2)

Agar pengujian hipotesis dengan chi-kuadrat dapat digunakan dengan baik, maka hendaknyamemperhatikan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

  1. Jumlah sampel harus cukup besar untuk meyakinkan kita bahwa terdapat kesamaan antara distribusi teoretis dengan distribusi sampling chi-kuadrat.
  2. Pengamatan harus bersifat independen (unpaired). Ini berarti bahwa jawaban satu subjek tidak berpengaruh terhadap jawaban subjek lain atau satu subjek hanya satu kali digunakan dalam analisis.
  3. Pengujian chi-kuadrat hanya dapat digunakan pada data deskrit (data frekuensi atau data kategori) atau data kontinu yang telah dikelompokan menjadi kategori.
  4. Jumlah frekuensi yang diharapkan harus sama dengan jumlah frekuensi yang diamati.
  5. Pada derajat kebebasan sama dengan 1 (table 2 x 2) tidak boleh ada nilai ekspektasi yang sangat kecil. Secara umum, bila nilai yang diharapkan terletak dalam satu sel terlalu kecil (< 5) sebaiknya chi-kuadrat tidak digunakan karena dapat menimbulkan taksiran yang berlebih (over estimate) sehingga banyak hipotesis yang ditolak kecuali dengan koreksi dari Yates.

Bila tidak cukup besar, maka adanya satu nilai ekspektasi yang lebih kecil dari 5 tidak akan banyak mempengaruhi hasil yang diinginkan.

Pada pengujian chi-kuadrat dengan banyak ketegori, bila terdapat lebih dari satu nilai ekspektasi kurang dari 5 maka, nilai-nilai ekspektasi tersebut dapat digabungkan dengan konsekuensi jumlah kategori akan berkurang dan informasi yang diperoleh juga berkurang.

 

3)      Besarnya Derajat Kebebasan

Pada pembahasan tentang distribusi ‘’ t ‘’, kita ketahui bahwa besarnya derajat kebebasan sama dengan n – 1.

Pengujian hipotesis menggunakan distribusi chi-kuadrat yang terdiri dari 2 variabel dan masing-masing variable terdiri dari beberapa kategori. Untuk menghitung banyaknya derajat kebebasan maka dibuat table kontingensi. Misalnya terdapat 2 variabel di mana variable ke-1 terdiri dari 3 kategori dan veriabel ke-2 terdiri dari 4 kategori. Dengan demikian dapat dibuat table kontingensi 3 x 4 sebagai berikut.

Variable 2

1

2

3

4

jumlah

Variabel 1

A

B

B

B

Tb

X

B

B

B

B

Tb

X

C

Tb

Tb

Tb

Tb

X

Jumlah

X

X

X

X

X

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan :

B  = dapat digunakan dengan bebas

Tb = tak bebas

X  = nilainya diketahui

Jumlah nilai dari baris dan kolom disebut nilai marginal. Jika nilai marginal dari jumlah seluruhnya (grand total) telah diketahui maka, pada baris pertama terdapat 3 nilai yang dapat ditentukan dengan bebas, demikian pula dengan baris kedua, tetapi pada baris ketiga semuanya tidak bebas karena jumlah marginal telah diketahui. Jadi, disini terdapat 6 nilai yang dapat ditentukan dengan bebas (2 x 3 = 6).

Secara umum rumus untuk menghitung derajat kebebasan pada pengujian hipotesis menggunakan chi-kuadrat adalah sperti berikut.

dk        = (jumlah baris – 1)  (jumlah kolom – 1)         atau

dk        = ( B – 1 )  ( K – 1 )

Pada contoh diatas,  dk = ( 3 -1 ) ( 4 – 1 ) = 2 x 3 = 6

 

 

4)      Menghitung Nilai Ekspektasi

Nilai ekspektasi adalah nilai yang kita harapkan terjadi sesuai dengan hipotesis penelitian. Nilai ekspektasi dapat dihitung dengan perkalian antara nilai marginal kolom dan baris yang bersangkutan dibagi dengan jumlah seluruhnya  (N) atau grand total yang terletak pada sudut kanan tabel kontingensi. Perhitungan nilai ekspektasi akan lebih jelas dengan contoh berikut.

Contoh :

Misalkan, seorang dokter rumah sakit menyatakan bahwa frekuensi anemia pada ibu hamil di rumah sakit A sama dengan di rumah sakit B dan sama denga rumah sakit C. Pernyataan tersebut akan diuji pada derajat kemaknaan 5%.

Pernyataan tersebut diuji dengan mengambil sampel secara independen pada ketiga rumah sakit tersebut. Sampel yang diambil adalah ibu hamil yang datang memeriksakan diri ketiga rumah sakit tersebu, masing – masing rumah sakit A = 50, rumah sakit B = 40, rumah sakit C = 60. Frekuensi anemia ibu hamil selama pengamatan adalah sebagai berikut.

Rumah Sakit

Anemia

Tidak anemia

A

20

30

B

25

15

C

35

25

 

Untuk memudahkan menghitung nilai ekspektasi maka dibuat tabel kontingensi 3 x 2 seperti berikut :

Rumah Sakit

Anemia

Tidak anemia

Jumlah

A

1)      20

2)      30

50

B

3)      25

4)      15

40

C

5)      35

6)      25

60

Jumlah

80

70

150

Nilai hasil pengamatan = simbol O (observed)

Nilai ekspektasi = simbol E (expected)

Untuk memudahkan menghitung besarnya nilai ekspektasi maka setiap sel diberi nomor urut.

E1 = (50 x 80)/150 = 26,6

E2 = (50 x 70)/150 = 23,3

E3 = (40 x 80)/150 = 21,3

E4 = (40 x 70)/150 = 19,3

E5 = (60 x 80)/150 = 31,0

E6 = (60 x 70)/150 = 28,0

Rumus :

 

menguji hipotesis dengan x2

contoh :

Bila dari contoh diatas kita akan menguji pernyataan kepala rumah sakit tersebut maka perhitungannya adalah seperti berikut ini :

Ho : f1 = f2 = f3

Ha : f1 ≠ f2 ≠ f3

O

E

(O – E)

(O – E)2

(O – E)2/E

20

26,6

3,4

11,56

0,43

30

23,3

6,7

44,89

1,93

25

21,3

3,7

13,69

0,64

15

19,3

-4,3

18,49

0,96

35

32,0

3,0

9,00

0,28

25

28,0

-3,0

9,00

0,32

 

Jumlah

4,56

 

Pada tabel 3 x 2 tersebut, dk = (3 – 1) (2 – 1) = 2; pada tabek x2, cari x2 dengan dk = 2 dan ditulis sebagai berikut.

X2 dk = 2 0,05 = 5,991 (dari tabel x2)

X2 dari hasil perhitungan adalah4,56, sedangkan x2 yang didapat dari tabel adalah 5,991. Karena 4,56 < 5,991 maka x2 = 4,56 terletak didaerah penerimaan atau dengankata lain hipotesis diterima pada  = 0,05.

Kesimpulan, tidak terdapat perbedaan frekuensi anemia pada ketiga rumah sakit tersebut.

 

5)      Pengujian Hipotesis Tentang Kesamaan Beberapa Proporsi

Chi-kuadrat dapat digunakan untuk menguji beberapa proporsi, mislanya, kita memperoleh beberapa proporsi P1,  P2, P3 . . . . Pk dengan kategori x1, x2, x3 . . . . xk yang bersifat independen dan kita ingin mengetahui apakah perbedaan proporsi hasil pengamatan memang benar berbeda atau karena faktor kebetulan. Untuk menyelesaikan masalah tersebutdilakukan pengujian dengan x2.

E1 = np1 , E2 = np2 , E3 = np3 . . . . Ek = npk

Ho        : P1 = P2 = P3 . . . . Pk

Ha        : P1 ≠ P2  , P3 . . . . Pk

dk = banyaknya kategori – 1 = (k – 1)

Ho akan diterima bila hasil perhitungan x2 lebih kecil daripada x2 yang terdapat dalam tabel dengan dk = k – 1 pada derajat kemaknaan .

Contoh :

  1. Misalnya, dinyatakan bahwa status gizi anaka balita disuatu daerah mempunyai perbandingan yang sama, gizi baik = gizi sedang = gizi kurang = gizi buruk.

Untuk mengetahui apakah pernyataan tersebut dapat dipercaya maka dilakukan  tersebut dan diperoleh hasil sebagai berikut.

30 anak dengan gizi baik, 35 anak dengan gizi sedang, 20 anak dengan gizi kurang dan 15 anak dengan gizi buruk.

Pengujian dilakukan pada derajat kemaknaan 0,05.

Hipotesis :

Ho : p = p1 = p2 = p3 = p4

Ha : p ≠ p1 = p2 = p3 = p4

atau antara  p1 , p2 , p3  dan p4 tidak sama

 

n = 30 + 35 + 20 + 15 = 100

= 0,05; dk = (k – 1) = 4 – 1 = 3

 

Hasil pengamatan (observed) status gizi : 30 , 35 , 20 dan 15 atau

O1 = 30 ; O2 =35 ; O3 = 20 ; O4 = 15.

 

Nilai ekspektasi, karena hipotesis nol dan semua proporsi sama maka diharapkan semua nilai dengan proporsi status gizi yang sama.

E1 = np = 100 x 0,25 = 25

E2 =        100 x 0,25 = 25

E3 =        100 x 0,25 = 25

E4 =        100 x 0,25 = 25

x2 = x12 + x22 + x32 + x42

= {(O1 – E1)2/ E1} + {(O2 – E2)2/ E2}  + {(O3 – E3)2/ E3}  + {(O4 – E4)2/ E4}

= {(30 – 25)2/25} + {(35 – 25)2/25} + {(20 – 25)2/25} + {(15 – 25)2/25}

= 10

Pada tabel x2 didapatkan bahwa x20,05 dk = 3 = 7,815

Karena 10 > 7,815 maka x2 = 10 berada diluar daerah penerimaan atau dengan kata lain hipotesis ditolak pada derajat kemaknaan 0,05 atau p < 0,05.

Kesimpulannya, proporsi status gizi anak balita didaerah tersebut tidak sama.

 

  1. Hasil pemeriksaan antropometrik status gizi anak dengan perbandingan gizi baik, sedang, kurang dan buruk adalah 5 : 4 : 2 : 1.

Untuk menguji apakah hasil antropometrik dengan perbandingan tersebut benar, dilakukan pengambilan sampel dengan hasil gizi baik = 30, gizi sedang = 40, gizi kurang = 10 dan gizi buruk = 10.

Hipotesis statistik :

Ho : p = 5 : 4 : 2 : 1

Ha : p ≠ 5 : 4 : 2 : 1

Kalau dianggap bahwa perbandingan tersebut benar maka diharapkan mempunyai perbandingan sebagai berikut.

P1 =512 x 90 = 37

P2 = 412 x 90 = 30

P3 = 212 x 90 = 15

P4 = 112 x 90 = 8

Agar lebih jelas, ini dapat disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut

 

Gizi baik

Gizi sedang

Gizi kurang

Gizi buruk

O

30

40

10

10

E

37

30

15

8

X2 = {(30 – 37)2/37} + {(40 – 30)2/30} + {(10 – 15)2/15} + {(10 – 8)2/8} = 5,82

X2 dk 3, 0,05 = 7,815

Hipotesis diterima pada derajat kemaknaan 0,05 atau p > 0,05.

Kesimpulann:

kita 95% percaya bahwa proporsi status gizi didaerah tersebut 5 : 4 : 2 : 1.

6)      Chi-Kuadrat Untuk Pengujian Independensi

Dibidang kedokteran tidak jarang kita menemukan dua variabel dimana masing – masing variabel terdiri dari beberapa kategori,misalnya tingkat beratnya penyakit dengan tingkat kesembuhan. Bila kita ingin mengetahui apakah diantara dua variabel tersebut terdapat hubungan atau tidak, dengan kata lain apakah kedua variabel tersebut bersifat dependen atau independen, maka pengujian hipotesis dilakukan dengan x2.

Interpretasi hasil pengujian ialah apabila hipotesis nol diterima, berarti tidak ada hubungan (independen), tetapi bila hasilnya menolak hipotesis nol maka dikatakan kedua variabel tersebut mempunyai hubungan atau dependen. Rumus yang digunakan adalah rumus umum x2.

Contoh :

Sebuah penelitian dilakukan oleh seorang kepala rumah sakit untuk mengetahui apakah ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan kelas ruang rawat inap. Untuk kepentingan tersebut diambil sampel sebanyak 200 orang penderita dengan hasil sebagai berikut.

Ho : variabel 1 dan variabel 2 disebut independen

Ha : variabel 1 dan variabel 2 disebut dependen

1)      70 orang dengan pendidikan SD

20 memilih kelas 1

40 memilih kelas 2

10 memilih kelas 3

2)      50 orang berpendidikan SLTP

25 memilih kelas 1

15 memilih kelas 2

10 memilih kelas 3

3)      40 orang berpendidikan SLTA

15 memilih kelas 1

10 memilih kelas 2

15 memilih kelas 3

4)      40 orang berpendidikan akademi dan perguruan tinggi

20 memilih kelas 1

5 memilih kelas 2

15 memilih kelas 3

Data diatas dapat disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut.

 

Kelas ruang

Pendidikan

Jumlah

SD

SLTP

SLTA

PT

1

20

25

15

20

80

2

40

15

10

5

70

3

10

10

15

15

50

Jumlah

70

50

40

40

200

 

Hasil perhitungan :

O

E

(O – E)

(O – E)2

(O – E)2/E

20

28

-8

64

2,29

25

20

5

25

1,25

15

16

-1

1

0,06

20

16

4

16

1,00

40

24,5

15,5

240,25

9,81

15

17,5

-2,5

6,25

0,06

10

14

-4

16

1,14

5

14

-9

81

5,75

10

12,5

-2,5

6,25

0,50

10

17,5

-7,5

56,25

3,21

15

10

5

25

2,5

15

10

5

25

2,5

 

Jumlah

30,11

X2 = 0,05, dk 6 = 12,59

Hipotesis ditolak pada derajat kemaknaan 0,05 atau p > 0,05.

Kesimpulannya, kita 95% percayat bahwa terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan kelas ruang rawat inap.

Grafik :

7)      Tabel Kontingensi 2 x 2 dan Uji x2

Bila hasil pengamatan terdiri dari dua variabel dan masing-masing hanya terdiri dari 2 kategori maka dapat dibuat tabel kontingensi 2 x 2. Dalam hal demikian, bila sampelnya cukup besar maka perhitungan chi-kuadrat dapat dilakukan dengan rumus chi-kuadrat yang lazim digunakan.

Tabel kontingensi 2 x 2 secara umum dapat kita gambarkan seperti berikut.

 

 

Variabel Dependen

 

I

II

Variabel Independen

1

a

b

a + b = r1

2

c

d

c + d = r2

 

a + c = s1

b + d = s2

N

 

       atau

Contoh:

Hasil penelitian mengenai tingkat tekanan psikologis dikaitkan dengan usia responden yang diakibatkan pekerjaanya tampak pada tabel berikut :

Umur (th)

Derajat tekanan (banyaknya pramuniaga)

Rendah

Menengah

Tinggi

< 25

20

18

22

25 – 40

50

46

44

40 – 60

58

63

59

> 60

34

43

43

Total

162

170

168

 

Ujilah apakah ada hubungan antara usia dan tingkat tekanan psikologis pada taraf natay sebesar 0,01 ?

Pemecahan :

  1. Formulasi

H0 : Tidak terdapat hubungan antara usia dengan tingkat tekanan psikologis

Ha : Ada hubungan antara usia dengan tingkat tekanan psikologis

 

  1. Hitung derajat bebas.

df = (jumlah baris – 1) x (jumlah kolom – 1)

df = (4 – 1)(3 –1) = 6

taraf nyata = 0,01

Nilai kritis (X2 tabel) = 16,812

 

  1. Hitung frekuensi yang diharapkan dengan rumus

Frekuensi yang diharapkan

 

Umur (th)

Derajat tekanan (banyaknya pramuniaga)

Rendah

Menengah

Tinggi

Total

Fo

Fe

Fo

Fe

Fo

Fe

Fo

Fe

< 25

20

19

18

20

22

20

60

60

25 – 40

50

46

46

48

44

48

140

140

40 – 60

58

58

63

61

59

60

180

180

> 60

34

32

43

41

43

40

120

120

Total

162

162

170

170

168

168

500

500

 

  1. Hitung X2

X2 = (20-19)2/19 + (18-20)2/20 + (22-20)2/20+(50-45)2/45 + (46-48)2/48

+ (44-47)2/47 +(58-58)2/58 + (63-61)2/61 + (59-60)2/60 +(34-39)2/39

+ (43-41)2/41 + (43-40)2/40

X2 =  2,191

  1. Kesimpulan , Karena 2,191 < 16,812, maka ho diterima berarti tidak ada hubungan antara usia dengan tekanan psikologis.

 

Contoh lain:

Suatu penelitian ingin mengetahui: “apakah ada perbedaan cita-cita kelak setelah tamat S1 diantara mahasiswa & mahasiswi AN Fisip UNS semester-VII?”

Hipotesis:

  • H0 = tidak ada perbedaan antara mahasiswa dan mahasiswi dalam hal cita-cita mereka kelak setelah tamat S1.
  • Ha = proporsi mahasiswi lebih banyak yang bercita-cita sebagai PNS  setelah mereka tamat S1 ketimbang mahasiswa.

 

Tabel kerja:

Cita-Cita

Mahasiswa

Mahasiswi

Jumlah

PNS

10

11

21

Bukan PNS

46

13

59

Jumlah

56

24

80

 

Perhitungan:

 

Besarnya degree of freedom (df) :

Df        =  (k-1)  (b-1)

= (2-1)  (2-1)

= 1

 

Adapun contoh lain…

Misalkan, kita akan meneliti efek semacam obat influenza. Untuk kepentingan tersebut diambil 2 kelompok penderita yang masing-masing 10 orang penderita influenza.

Kelompok 1 diberi obat, sedangkan kelompok 2 diberi plasebo. Setelah 3 hari kemudian dievaluasi dan hasilnya pada kelompok 1 terdapat 7 orang sembuh dan 3 orang tidak, sedangkan kelompok 2 terdapat 4 orang sembuh dan 6 orang tidak.

 

Derajat kemaknaan 0,05

H0 : obat  plasebo

Ha : obat  plasebo

 

Efek

 

Sembuh

Tidak

Total

Obat

7

3

10

Plasebo

4

6

10

Jumlah

11

9

20

Hipotesis diterima pada derajat kemaknaan 0,05. Kesimpulannya, kita 95% percaya bahwa obat tersebut tidak mempunyai efek terhadap penyembuhan influenza.

 

8)   Koreksi Kontinuitas Pada Tabel 2 x 2 (Yates)

Bila kita gunakan rumus diatas untuk menyelesaikan pengujian chi-kuadrat dengan tabel 2×2 dengan derajat kebebasan (dk) satu, maka akan terjadi penaksiran yang berlebih terutama bila hasil pengamatan merupakan frekuensi yang kecil sehingga banyak terjadi penolakan hipotesis. Hal ini disebabkan terjadinya pendekatan distribusi binomial ke distribusi normal.

Untuk mengatasi hal tersebut maka dilakukan koreksi yang dikenal dengan koreksi kontinuitas yang ditemukan oleh F Yates pada tahun 1934. Oleh karena itu, koreksi tersebut dikenal dengan koreksi Yates.

 

Koreksi Yates adalah aturan yang diusulkan oleh F.Yates (1934), dimaksudkan sebagai suatu nilai koreksi terhadap hasil distribusi kontinu berdasarkan hasil dari data diskrit, koreksi Yates ini sebagai upaya untuk mengkontinukan tingkat penyebaran data dalam pengujian tabel kontingensi 2×2, agar lebih baik sebaran hampirannya (Murti, 1996).

Tabel 2 x 2 secara umum dapat kita gambarkan seperti berikut.

 

 

Variabel Dependen

 

I

II

Variabel Independen

1

A

b

a + b = r1

2

C

d

c + d = r2

 

a + c = s1

b + d = s2

N

 

Dalam menurunkan distribusi statistic χ2 perlu diperhatikan bahwa distribusi chi-kuadrat bertipe kontinu, maka untuk mereduksi akibat penghampiran a , Yates mengusulkan sebuah koreksi kekontinuan. Yaitu anggap frekuensi pengamatan dapat diambil semua nilai yang mungkin pada suatu selang kontinu dengan cara mengambil jarak ½ unit dari bilangan yang diperoleh.

Faktor koreksi tersebut ialah dikurangi  sebelum dihitung sehingga rumusnya menjadi seperti berikut.

           atau

Budiarto (2002), menyarankan bahwa untuk menggunakan koreksi Yates pada kondisi sebagai berikut :

1. Sampel kecil

2. Tabel kontingensi 2×2

3. Nilai ekspektasi < 5

4. dk = 1

Namun demikian penggunaan koreksi Yates tidak disarankan/diperlukan lagi, bila N terlampau banyak. Dahulu koreksi Yates banyak digunakan, namun akhir-akhir ini manfaatnya dipertanyakan. Bahkan Grizzle (1967) menganjurkan untuk tidak menggunakan koraksi Yates, karena cenderung memperbesar kesalahan tipe II (tidak menolak Ho, padahal Ho salah) (Murti, 1996)

Contoh:

Dari contoh efek semacam obat untuk influenza. Pada penelitian ini diambil 2 kelompok penderita influenza masing-masing 10 orang.

Kelompok 1 diberi obat, sedangkan kelompok 2 diberi plasebo. Setelah 3 hari kemudian dievaluasi dan hasilnya pada kelompok 1 terdapat 7 orang sembuh dan 3 orang tidak, sedangkan kelompok 2 terdapat 4 orang sembuh dan 6 orang tidak.

Derajat kemaknaan 0,05

H0 : obat  plasebo

Ha : obat  plasebo

Efek

Sembuh

Tidak

Total

Obat

7

3

10

Plasebo

4

6

10

Jumlah

11

9

20

 

Dengan koreksi Yates, hasil perhitungan nilainya lebih kecil daripada tanpa koreksi walaupun hasilnya juga tidak bermakna.

 

Kriterianya diterimanya hipotesis adalah bila nilai hasil perhitungan lebih kecil dari 3,84. Dari hasil tersebut hipotesis diterima. Kesimpulannya, kita 95 % percaya bahwa obat tersebut tidak berhasiat untuk menyembuhkan influenza.

 

Grafik.

Adapun contoh lain….

Yang berikut adalah data hasil pengumpulan pendapat masyarakat terhadap dua calon pemimpin.

Pendapat

Ya

Tidak

Total

Calon

A

37

22

59

B

18

7

25

Jumlah

55

29

84

 

Untuk penngujian hipotesis bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata mengenai pendapat masyarakat terhadap kedua calon itu diperlukan nilai.

 

Dalam kedua taraf nyata = 0,01 dan =0,05 hipotesis diterima

Walaupun telah dilakukan koreksi, tetapi masih terjadi keraguan pendekatan distribusi chi-kuadrat ke distribusi normal. Hal ini terjadi bila frekuensi terlalu kecil.oleh karena itu, R.A. Fisher, J.O. Irwin, dan F. Yates mengusulkan perhitungan chi-kuadrat dilakukan eksak tes yang dikenal dengan Fisher probability exact test

 

Fisher probability exact test merupakan salah satu metode statistik non parametrik untuk menguji hipotesis. Prosedur ini ditemukan oleh R.A. Fisher pada pertengahan tahun 1930. Pada penelitian dua variabel dengan data yang dinyatakan dalam persen, pengujian hipotesis dapat dilakukan dengan statistik parametrik chi-kuadrat. Bila sampel yang digunakan terlalu kecil (n<20) dan nilai ekspektasi < 5 maka chi-kuadrat tidak dapat digunakan walaupun telah mengalami koreksi dari Yates. Untuk mengatasi kelemahan uji chi-kuadrat tersebut digunakan Fisher probability exact test (Budiarto, 2002).

 

Menurut Sugiyono, (2005), uji exact fisher digunakan untuk menguji signifikansi hipotesis komparatif dua sampel kecil independen bila datanya berbentuk nominal. Untuk memper-mudahkan perhitungan. Dalam pengujian hipotesis, maka data hasil pengamatan perlu disusun ke dalam tabel kontingensi 2 x 2 (Sugiyono, 2005).

 

Fisher exact tes ini lebih akurat daripada uji chi-kuadrat untuk data-data berjumlah sedikit. Walaupun uji ini biasanya digunakan pada tabel sebanyak 2 x 2, namun kita dapat melakukan Uji exact Fisher dengan jumlah tabel yang lebih besar.

Rumus dasar yang digunakan untuk pengujian exact fisher yaitu sebagai berikut:

 

Atau…..

 

Fisher Exact Test

 

Cohran (1954) dalam Siegel (1992) menganjurkan untuk menggunakan uji exact fisher bila pada uji chi-kuadrat dilakukan dengan sampel kecil tersebut akan baik bila digunakan pada kondisi sebagai berikut :

  1. Bila sampel total kurang dari 20 atau
  2. bila jumlah sampel 20 < n < 40 dengan nilai ekspektasinya <5

Pada nilai marginal yang tetap dapat disusun berbagai kombinasi. Dari setiap kombinasi yang dihasilkan dapat dihitung selisih persentase antara yang berhasil (+) dan tidak berhasil (-) dan dihitung nilai p menggunakan rumus di atas.

Hasil perhitungan persentase setiap kombinasi dan nilai p dapat disusun dalam bentuk tebel. Melalui tabel tersebut kita dapat segera mengetahui besarnya p dari selisih persentase (+) dan (-) (Budiarto, 2002).

Keuntungan dan kerugian dengan menggunakan Uji exact Fisher yaitu sebagai berikut (Budiarto, 2002) :

Keuntungan :

  1. Hasilnya langsung dengan nilai p yang pasti
  2. Tes hanya didasarkan atas hasil pengamatan yang nyata
  3. Tidak dibutuhkan asumsi populasi berdistribusi normal
  4. Tidak dibutuhkan asumsi kedua kelompok yang diambil dari populasi secara random.

Kerugian :

  1. Sulit untuk dilakukan ekstrapolasi terhadap populasi studi
  2. Ahli statistika yang beranggapan bahwa tujuan akhir uji statistik adalah mengadakan estimasi terhadap parameter populasi tidak setuju dengan uji Fisher.

 

9)      Pengujian Hipotesis Chi-Kuadrat Pada Data Binomial

Bila data yang akan diuji merupakan data binomial dengan probilitas terjadinya sesuatu = p dan probabilitas lain = q maka pengujiannya dilakukan dengan mengambil sampel sebesar n, dimana dalam sampel tersebut terdapat kategori x. Frekuensi yang diharapkan pada probabilitas yang diharapkan = np.

 

Contoh:

Penderita yang dirawat di bagian ilmu kesehatan anak terdiri 40% wanita dan 60% laki-laki. Bila ingin diuji apakah pernyataan tersebut dapat dipercaya maka hasilnya sebagai berikut.

Untuk menguji hipotesis tersebut diambil sampel sebanyak 50 anak yang dirawat dibagian ilmu kesehatan anak dengan hasil 27 anak perempuan dan 23 anak laki-laki.

Hipotesis Statistik:

H0 : p  0,4

Ha : p  0,4

 

Nilai Ekspektasi:

Wanita             : 0,4 × 50 = 20

Laki-laki          : 0,6 × 50 = 30

 

Hipotesis diterima pada derajat kemaknaan 0,05 atau p > 0,05

Kesimpulannya, kita 95% percaya bahwa penderita yang dirawat di bagian ilmu kesehatan anak 40%-nya adalah wanita.

 

 

 

 

 

Grafik.

Derajat Hubungan (Koefisien Kontingensi C)

Kegunaan teknik koefisien kontingensi yang diberi simbol C, adalah untuk mencari atau menghitung keeratan hubungan antara dua variabel yang mempunyai gejala ordinal (kategori), paling tidak berjenis nominal.

Cara kerja atau perhitungan koefisien kontingensi sangatlah mudah jika nilai Chi-kuadrat sudah diketahui. Oleh karena itu biasanya para peneliti menghitung harga koefisien kontingensi setelah menentukan harga Chi-kuadrat. Test signifikansi yang digunakan tetap menggunakan tabel kritik Chi-kuadrat, dengan derajat kebebasan (db) sama dengan jumlah kolom dikurangi satu dikalikan dengan jumlah baris dikurangi satu (b-1)(k-1).

Untuk mengetahui asosiasi /kekuatan/derajat hubungan/relasi antara dua perangkat atribut. Rumus yang digunakan untuk menghitung koefisien kontingensi adalah :

 

C

contoh: bila dalam tabel kontingensi dudah dihitung nilai x2 = 144,12 dengan N = 668, didapat

 

Agar harga C dapat dipakai untuk menilai derajat asosiasi antara faktor-faktor atu nutuk mengukur kekuatan hubungan, maka nilai C harus dibandingkan dengan koefisien kontingensi maksimum yang bisa terjadi.

Nilai C maksimum dapat dihitung dengan rumus berikut.

Cmaks

m = jumlah minimum baris dan kolom tabel kontingensi

Contoh : bila tabel kontingensi terdiri dari 3 baris dan 4 kolom maka minimumnya  3 , sehingga

Cmaks

Penilaian

Makin dekat nilai C dengan Cmaks maka makin besar derajat asosiasi, antara faktor-faktor tersebut atau dengan kata lain tingkat dependensi diantara kedua faktor makin besar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Arini, Sukma. 2011. Uji χ² (Uji Chi-Kuadrat/Uji Kecocokan) kasus satu sampelhttp://arini2992.blogspot.com/2011/05/uji-uji-chi-kuadratuji-kecocokan-kasus.html diakses tanggal 10 April 2012 pukul 13.15 WIB

Budiarti,Eko. 2001. Biostatistika untuk kedokteran dan kesehatan masyarakat .cetakan I. Jakarta : EGC

Budiarto, 2002. Analisis Data Katagorik (B). http://vinaserevinafisika-unj.blogspot.com/2011_12_01_archive.html diakses pada tanggal 11 April 2012 pukul 14.20 WIB

Budiarto,Eko. 2002. Biostatistik untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : EGC

Rizki, Dwiki. 2011. Uji Chi-Kuadrat. http://ilerning.com/index.php?option=com_content&view=article&id=693:uji-chi-kuadrat-edit-mar&catid=39:hipotesis&Itemid=70 diakses tanggal 13 April pukul 08.35 WIB

Sudjana. 1982. Metoda Statistika edisi II. Bandung : Tarsito

Sugiyono, 2005. Analisis Data Katagorik (B). http://vinaserevinafisika-unj.blogspot.com/2011_12_01_archive.html diakses pada tanggal 11 April 2012 pukul 14.20 WIB

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sejarah dirintisnya metode investigasi wabah dimulai dengan adanya penemuan kuman cholera oleh john snow sehingga ia terkenal dengan metode investigasi wabah cholera di London  ( 1854 ).

Wabah adalah suatu keadaan ketika dimana kasus penyakit atau peristiwa  yang lebih banyak daripada yang diperkirakan dalam suatu periode waktu tertentu di area tertentu atau diantara kelompok tertentu. Disebuah fasilitas pelayanan kesehatan dugaan terhadap suatu wabah mungkin muncul ketika aktivitas surveilans rutin mendeteksi adanya suatu kluster kasus yang tidak biasa atau terjadinya peningkatan jumlah kasus yang signifikan dari jumlah biasanya.

Ketika dokter mendiagnosa suatu penyakit yang tidak biasa, ketika dokter, perawat , atau petugas laboraturium yang menyadari terjadinya serangkaian kluster kasus. Kluster kasus adalah kelompok kasus penyakit atau peristiwa kesehatan lain yang terjadi dalam rentang waktu dan tempat yang berdekatan. Didalam suatu kluster banyaknya kasus dapat melebihi jumlah yang diperkirakan, umumnya jumlah yang diperkirakan tidak diketahui.

 

1.2 Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah tugas dari mata kuliah epidemiologi dan menambah wawasan penulis tentang epidemiologi khususnya tentang Investigasi Wabah.

 

1.3 Rumusan Masalah

  1. Apa yang dimaksud dengan investigasi wabah ?
  2. Kriteria kerja wabah/ KLB ?
  3. Langkah dalam melakukan investigasi wabah ?
  4. Tujuan penyelidikan wabah/ KLB ?

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Investigasi Wabah

Secara umum Wabah dapat diartikan sebagai  kejadian penyakit melebihi dari normal (kejadian yang biasa terjadi). Banyak definisi yang diberikan mengenai wabah baik kelompok maupun para ahli diantaranya :

  • Wabah adalah penyakit menular yang terjangkit dengan cepat, menyerang sejumlah besar orang didaerah luas ( KBBI : 1989 ).
  • Wabah adalah peningkatan kejadian kesakitan atau kematian yang telah meluas secara cepat, baik jumlah kasusnya maupun daerah terjangkit ( depkes RI, DirJen P2MPLP : 1981).
  • Wabah adalah kejadian terjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka ( UU RI No. 4 tahun 1984 ).
  • Wabah adalah terdapatnya penderita suatu penyakit tertentu pada penduduk suatu daerah, yang nyata jelas melebihi jumlah biasa ( Benenson : 1985 )
  • Wabah adalah timbulnya kejadian dalam suatu masyarakat, dapat berupa penderita penyakit,  perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, atau kejadian lain yang berhubungan dengan kesehatan yang jumlahnya lebih banyak dari keadaan biasa ( Last : 1981 )

Selain kata wabah dikenal pula letusan ( outbreak ) apabila kejadian tersebut terbatas dan dapat ditanggulangi sendiri oleh pemerintah daerah dan kejadian luar biasa ( KLB ) apabila penanggulangannya membutuhkan bantuan dari pemerintah pusat ( DirJen P2MPLP tahun 1981 ). Di Indonesia pernyataan adanya wabah hanya boleh ditetapkan oleh mentri kesehatan.

 

2.1.1 Tiga komponen wabah :

  • Kenaikan jumlah penduduk
  • Kelompok penduduk disuatu daerah
  • Waktu tertentu

2.1.2 Alasan melakukan penyelidikan adanya kemungkinan wabah :

  • Mengadakanpenanggulangan dan pencegahan

a)    Ganas tidaknya penyakit

b)    Sumber dan cara penularan

c)    Ada atau tidaknya cara penanggulangan dan pencegahan

  • Kesempatan mengadakan penelitian dan pelatihan
  • Pertimbangan program
  • Kepentingan umum,  politik, dan hukum

 

2.2 Kriteria Kerja Wabah / KLB

Kepala wilayah / daerah setempat yang mengetahui adanya tersangka wabah (KJB penyakit menular) diwilayahnya  atau tersangka penderita penyakit yang dapat menimbulkan wabah, wajib seera melakukan tindakan – tindakan penanggulangan seperlunya, dengan bantuan unit kesehatan setempat, agar tidak berkembang menjadi wabah (UU No. 4 dan PerMenKes 560/ MenKes/ Per/ VIII/ 1989).

Suatu kejadian penyakit atau keracunan dapat dikatakan KLB apabila memenuhi kriteria sebagai berikut :

  1. Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada/ tidak dikenal.
  2. Peningkatan kejadian penyakit/ kematian terus – menerus selama tiga kurun waktu berturut – turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu).
  3. Peningkatan kejadian penyakit/ kematian, dua kali atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, minggu, bulan, tahun).
  4. Jumlah penderita baru dalam suatu bulan menunjukan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan angka rata – rata perbulan dalam tahun sebelumnya.
  5. Angka rata – rata perbulan selama satu tahun menunjukan kenaikan dua kali lipat atau lebih dibandingkan dengan angka rata – rata perbulan dari tahun sebelumnya.
  6. Case fatality rate ( CFR ) suatu penyakit dalam suatu kurun waktu tertentu menunjukan kenaikan 50% atau lebih, dibandingkan dengan CFR dari periode sebelumnya.
  7. Proportional rate ( PR ) penderita dari suatu periode tertentu menunjukan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan periode,
  8. kurun waktu atau tahun sebelumnya.
  9. Beberapa penyakit khusus menetapkan kriteria khusus : cholera dean demam berdarah dengue.
  • Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya ( pada daerah endemis ).
  • Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada periode empat minggu sebelumnya, daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit yang bersangkutan.
  1. Beberapa penyakit seperti keracunan, menetapkan satu kasus atau lebih sebagai KLB.
  • Keracunan makanan
  • Keracunan pestisida
  1. Satu kenaikan yang kecil dapat saja merupakan KLB yang perlu ditangani seperti penyakit poliomylitis dan tetanus neonatorum kasus dianggap KLB dan perlu penanganan khusus.

 

Peningkatan jumlah kasus atau penderita yang dilaporkan belum tentu suatu wabah (pseudo epidemik) karena peningkatan penderita tersebut bisa karena :

  • Perubahan cara pencatatan
  • Ada cara – cara dignosis baru
  • Bertambahnya kesadaran penduduk untuk berobat
  • Ada penyakit lain dengan gejala sama
  • Jumlah penduduk bertambah

 

2.3 Langkah Investigasi wabah

Langkah melakukan investigsi wabah dilakukan dengan menggunakan pendekatan yang sistemik yang terdiri dari :

 

2.3.1 Persiapan Investigasi di Lapangan

Persiapan dapat dikelompokkan dalam 3 kategori yaitu:

a)    Investigasi           : pengetahuan ilmiah perlengkapan dan alat

b)    Administrasi        : prosedur administrasi termasuk izin dan pengaturan

perjalanan

c)    Konsultasi           : peran masing – masing petugas yang turun kelapangan

 

2.3.2 Pemastian Adanya Wabah

Dalam mementukan apakah wabah, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

a)    Dengan membandingkan jumlah yang ada saat itu dengan jumlah beberapa minggu atau bulan sebelumnya.

b)    Menentukan apakah jumlah kasus yang ada sudah melampaui jumlah yang diharapkan.

c)    Sumber informasi bervariasi bergantung pada situasinya

  • Catatan hasil surveilans
  • Catatan keluar dari rumah sakit, statistic kematian, register, dan lain-lain.
  • Bila data local tidak ada, dapat digunakan rate dari wilayah di dekatnya atau data nasional.
  • Boleh juga dilaksanakan survey di masyarakat menentukan kondisi penyakit yang biasanya ada.

d)    Pseudo endemik ( jumlah kasus yang dilaporkan belum tentu suatu wabah ) :

  • Perubahan cara pencatatan dan pelaporan penderita
  • Adanya cara diagnosis baru
  • Bertambahnya kesadaran penduduk untuk berobat
  • Adanya penyakit lain dengan gejala yang serupa
  • Bertambahnya jumlah penduduk yang rentan

 

 

2.3.3 Pemastian Diagnosis

Semua temuan secara klinis harus dapat memastikan diagnosis wabah, hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :

a)    Untuk memastikan bahwa masalah tersebut telah didiagnosis dengan patut

b)    Untuk menyingkirkan kesalahan laboraturium yang menyebabkan peningkatan kasus yang dilaporkan

c)    Semua temuan klinis harus disimpulakan dalam distribusi frekuensi

d)    Kunjungan terhadap satu atau dua penderita

 

2.3.4 Pembuatan Definisi Kasus

Pembuatan definisi kasus adalah seperangkat criteria untuk menentukan apakah seseorang harus dapat diklasifikasikan sakit atau tidak. Kriteria klinis dibatasi oleh waktu, tempat, dan orang. Penyelidikan sering membagi kasus menjadi pasti ( compirmed), mungkin ( probable), meragukan ( possible ), sensivitasdan spefsifitas.

 

2.3.5 Penemuan dan Penghitungan Kasus

Metoda untuk menemukan kasus yang harus sesuai dengan penyakit dan kejadian yang diteliti di fasilitas kesehatan yang mampu memberikan diagnosis. Informasi berikut ini dikumpulakan dari setiap kasus :

a)    Data identifikasi ( nama, alamat, nomor telepon )

b)    Data demografi ( umur, jenis kelamin, ras, dan pekerjaan )

c)    Data klinis

d)    Faktor risiko, yang harus dibuat khusus untuk tiap penyakit

e)    Informasi pelapor untuk mendapatkan informasi tambahan atau member umpan balik

 

 

 

 

2.3.6 Epidemiologi Deskriptif

 

2.3.6.1 gambaran waktu berdasarkan waktu

Perjalanan wabah berdasarkan waktu digamabarkan dengan grafik histogram yang berbentuk kurva epidemic, gambaran ini membantu :

a)    Member informasi samapai dimana proses wabah itu dan bagaimana kemungkinan kelanjutannya

b)    Memperkirakan kapan pemaparan terjadi dan memusatkan penyelidikan pada periode tersebut, bila telah diketahui penyakit dan masa inkubasinya.

c)    Menarik kesimpulan tentang pola kejadian, dengan demikian mengetahui apakah bersumber tunggal, ditularkan dari orang ke orang, atau campuran keduanya

Kemungkinan periode pemaparan dapat dilakukan dengan :

a)    Mencari masa inkubasi terpanjang, terpendek, dan rata-rata

b)    Menentukan puncak wabah atau kasus mediannya, dan menghitung mundur satu masa inkubasi rata-rata

c)    Dari kasus paling awal kejadian wabah, dihitung mundur masa inkubasi terpendek

Masa inkubasi penyakit adalah waktu antara masuknya agens penyakit sampai timbulnya gejala pertama. Informasi tentang masa inkubasi bermanfaat billa penyakit belum diketahui sehingga mempersempit diagnosis diferensial dam memperikan periode pemaparan. Cara menghitung median masa inkubasi :

a)    Susunan teratur ( array) berdasarkan waktu kejadiannya

b)    Buat frekuensi kumulatifnya

c)    Tentukan posisi kasus paling tengah

d)    Tentukan kelas median

e)    Median masa inkubasiditentukan dengan menghitung jarak antara waktu pemaparan dan kasus median

 

2.3.6.2 gambaran wabah berdasarkan tempat

Gambaran wabah berdasarkan tempat menggunakan gambaran grafik berbentuk Spot map. Grafik ini menunjukkan kejadian dengan titik/symbol tempat tertentu yang menggambarkan distribusi geografi suatu kejadian menurut golongan atau jenis kejadian namun mengabaikan populasi.

2.3.6.3 Gambaran wabah berdasarkan ciri orang

Variable orang dalam epidemiologi adalah karakteristik individu yang ada hubungannya dengan keterpajanan atau kerentanan terhadapa suatu penyakit.Misalnya karakteristik inang ( umur, jenis kelamin, ras/suku, status kesehatan) atau berdasarkan pemaparan ( pekerjaan, penggunaan obat-obatan)

 

2.3.7 Pembuatan Hipotesis

Dalam pembuatan suatu hipotesis suatu wabah, hendaknya petugas memformulasikan hipotesis meliputi sumber agens penyakit, cara penularan, dan pemaparan yang mengakibatkan sakit.

a)    Mempertimbangkan apa yang diketahui tentang penyakit itu:

  • Apa reservoir utama agen penyakitnya?
  • Bagaimana cara penularannya?
  • Bahan apa yang biasanya menjadi alat penularan?
  • Apa saja faktor yang meningkatkan risiko tertular?

b)    Wawancara dengan beberapa penderita

c)    mengumpulkan beberapa penderita  mencari kesamaan pemaparan.

d)    Kunjungan rumah penderita

e)    Wawancara dengan petugas kesehatan setempat

f)     Epidemiologi diskriptif

 

 

2.3.8 Penilaian Hipotesis

Dalam penyelidikan lapangan, hipotesis dapat dinilai dengan salah satu dari dua cara

a)    Dengan membandingkan hipotesis dengan fakta yang ada, atau

b)    Dengan analisis epidemiologi untuk mengkuantifikasikan hubungan dan menyelidiki peran kebetulan.

c)    Uji kemaknaan statistik, Kai kuadrat.

 

 

 

 

 

2.3.9 Perbaikan hipotesis dan penelitian tambahan

Dalam hal ini penelitian tambahan akan mengikuti hal dibawah ini

a)    Penelitian Epidemiologi ( epidemiologi analitik )

b)    Penelitian Laboratorium ( pemeriksaan serum ) dan Lingkungan (pemeriksaan tempat pembuangan tinja )

2.3.10 Pengendalian dan Pencegahan

Pengendalian seharusnya dilaksanakan secepat mungkin upaya penanggulangan  biasanya hanya dapat diterapkan setelah sumber wabah diketahui Pada umumnya, upaya pengendalian diarahkan pada mata rantai yang terlemah dalam penularan penyakit. Upaya pengendalian mungkin diarahkan pada agen penyakit, sumbernya, atau reservoirnya.

 

 

2.3.11 Penyampaian Hasil Penyelidikan

Penyampaian hasil dapat dilakukan dengan dua cara pertama Laporan lisan pada pejabat setempat dilakukan di hadapan pejabat setempat dan mereka yang bertugas mengadakan pengendalian dan pencegahan dan yang kedua laporan tertulis.Penyamapin penyelidikan diantaranya

a)    Laporan harus jelas, meyakinkan, disertai rekomendasi yang tepat dan beralasan

b)    Sampaikan hal-hal yang sudah dikerjakan secara ilmiah; kesimpulan dan saran harus dapat dipertahankan secara ilmiah

c)    Laporan lisan harus dilengkapi dengan laporan tertulis, bentuknya sesuai dengan tulisan ilmiah (pendahuluan, latar belakang, metodologi, hasil, diskusi, kesimpulan, dan saran)

d)    Merupakan cetak biru untuk mengambil tindakan

e)    Merupakan catatan dari pekerjaan, dokumen dari isu legal, dan merupakan bahan rujukan apabila terjadi hal yang sama di masa datang .

 

 

 

2.4 tujuan penyelidikan wabah / KLB

 

2.4.1 Tujuan umum penyelidikan KLB / wabah

a)    Upaya penanggulangan dan pencegahan

b)    Surveilans ( lokal, nasional, dan internasional )

c)    Penelitian

d)    Pelatihan

e)    Menjawab keingintahuan masyarkat

f)     Pertimbangan program

g)    Kepentingan politik dan hukum

h)   Kesadaran masyarakat

 

2.4.2 Tujuan khusus penyelidikan KLB / wabah

a)    Memastikan diagnosa

b)    Memastikan bahwa terjadi KLB/ wabah

c)    Mengidentifikasi penyebab KLB

d)    Mengidentifikasi sumber penyebab

e)    Rekomendasi : cepat dan tepat

f)     Mengetahui jumlah korban dan populasi rentan, waktu dan periode KLB, serta tempat terjadinya KLB ( variabel orang, waktu dan tempat )

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Wabah adalah suatu keadaan ketika dimana kasus penyakit atau peristiwa  yang lebih banyak daripada yang diperkirakan dalam suatu periode waktu tertentu di area tertentu atau diantara kelompok tertentu. Dan dugaan terhadap suatu wabah mungkin muncul ketika aktivitas surveilans rutin mendeteksi adanya suatu kluster kasus yang tidak biasa atau terjadinya peningkatan jumlah kasus yang signifikan dari jumlah biasanya dan diperlukan upaya evaluasi pada suatu masalah yang potensial atau memulai investigasi.

3.2 Saran

Investigasi wabah adalah peristiwa yang lebih banyak dari biasanya, misalnya wabah DBD.  Mencegah lebih baik daripada mengobati, maka dari itu investigasi wabah dilakukan untuk mencegah KLB yang bisa saja terjadi di kemudian hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Rajab,Wahyudin.2009.Buku Ajar Epidemiologi untuk Mahasiswa Kebidanan.Jakarta:EGC.

Rianti,Emy,DKK.2009.Buku Ajar Epidemiologi dalam Kebidanan.Jakarta:Trans Info Media.

http://epid-infokes.blogspot.com/2007/08/investigasi-wabah.html

 

KATA PENGANTAR

 

Puji dan syukur kami panjatkan pada Tuhan Yang Maha Esa, Karena atas rahmat dan karunia-Nya serta kerja keras kami, makalah  yang sederhana ini dapat selesai tepat pada waktunya. Ucapan terima kasih penulis sampaikan pada dosen pembimbing yang telah sabar dalam membimbing pembuatan makalah ini.

Penulis mohon maaf apabila makalah ini mempunyai banyak kekurangan, karena keterbatasan penulis yang masih dalam tahap pembelajaran. Oleh karna itu, kritik dan saran pembaca yang membangun, sangat penulis harapkan dalam pembuatan makalah selanjutnya. Semoga makalah sederhana ini dapat berguna bagi pembaca maupun saya sendiri.

Penulis

BAB l

PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang

Anatomi adalah ilmu yang mempelajari struktur tubuh manusia. Struktur tubuh manusia sangat penting untuk diketahui karena hal ini akan berhubungan dengan sesuatu yang terjadi pada tubuh. Dalam struktur tubuh  manusia terdapat beberapa system, salah satunya  adalah system respirasi/pernafasan. Organ yang berperan penting dalam proses respirasi adalah paru – paru/pulmo. System respirasi terdiri dari hidung/nasal, faring, laring, trakea, brokus, bronkiolus, dan alveolus.

Respirasi  adalah pertukaran antara O2 dan CO2 dalam paru-paru, tepatnya dalam alveolus. Pernapasan sangat penting bagi kelanjutan hidup manusia. Apabila  seseorang tidak bernafas dalam beberapa saat, maka orang tersebut akan kekurangan oksigen (O2), hal ini dapat mengkibatkan orang tersebut kehilangan nyawanya. Dalam makalah ini penulis akan membahas system pernafasan termasuk anatomi system pernafasan, proses inspirasi dan proses ekspirasi.

1.2      Tujuan

Para pembaca dapat mengetahui organ-organ dalam pernafasan manusia

Para pembaca bisa mengetahui proses pernafasan secara inspirasi

Para pembaca bisa mengetahui proses pernafasan secara ekspirasi

1.3      Rumusan masalah

 

Organ-organ apa saja yang berperan dalam pernafasan manusia?

Bagaimana proses pernafasan secara inspirasi yang terjadi pada system pernafasan manusia?

Bagaimana proses pernafasan secara ekspirasi yang terjadi pada system pernafasan manusia?

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1      SISTEM RESPIRASI MANUSIA

Pulmo (Paru – paru) adalah organ manusia  yang berperan penting dalam system respirasi, berbentuk kerucut dan berada di rongga torax, serta dilapisi oleh 2 membran yaitu membran viseral dan membran parietal.Pulmo  terbagi menjadi pulmo dextra (kanan) dan pulmo sinistra (kiri).

  • Pulmo Dextra

pulmo dextra terdiri dari 3 lobus, yaitu :

a)    Lobus superior

b)    Lobus madius

c)    Lobus inferior

Lobus superior dengan lobus  medius dipisahkan oleh fissura horizontalis, sedangkan yang memisahkan lobus superior dan lobus medius dengan lobus inferior adalah fissura obliqua. Pada hilus paru kanan terdapat struktur – struktur dibawah ini:

a)    Bronkus pinsipalis dan cabang lobus superior disebelah belakang atas hilus

b)    Arteri pulmonalis disebelah depan atas hilus

c)    Arteri bronkialis

d)    Noduli limpatici bronkopulmonalis

  • Pulmo Sinistra

Pulmo sinistra terdiri dari 2 lobus, yaitu:

a)    Lobus superior

b)    Lobus inferior

Lobus superior dan lobus inferior dipisahkan oleh fissura obliqua. Pada hilus kiri terdapat struktur – struktur :

a)    2 bronkus lobaris di sebelah belakang hilus

b)    Arteri pulmonalis disebelah atas hilus

c)    2 vena pulmonalis disebelah depan dan bawah hilus

d)    Arteri bronkialis

e)    Noduli lympatici bronkopulmonalis

Setiap pulmo mendapat suplai darah dari satu arteri pulmonalis (langsung dari ventrikel kanan) yang kemudian bercabang menjadi arteri lobaris dan arteri segmentalis untuk memperdarahi masing – masing lobus dan segmen. Pembuluh darah balik melalui 2 vena pulmonalis dan masuk ke atrium kiri,serta di persyarafi oleh nervous vagus dan trunkus simpatikus.

Pulmo dilapisi oleh membrane tipis dan transparan yang disebut pleura. Pleura mempunyai 2 lapisan yaitu lapisan visceral di bagian dalam dan lapisan parietal di bagian luar. Pleura visceral benar – benar dekat denganorgan paru sedangkan pleura prietalis menutupi permukaan dalam dinding dada. Kedua lapisan ini melanjutkan diri ke hilus paru. Diantara kedua lapisan ini terdapat ruang yang normalnya berisi cairan sebagai pelumas, agar kedua lapisan tersebut bisa bergerak dengan mudah. Bila terdapat banyak cairan di rongga pleura disebut efusi pleura. Hal ini merupakan suatu hal patologis, bila cairan berupa pus (nanah) disebut empiema. Jika rongga pleura berisi udara misalnya akibat tertusuk benda tajam, keadaan ini disebut pneumotorax.

Sistem respirasi manusia terdiri dari bagian superior dan bagian inferior. Bagian superior yaitu hidung dan faring, sedangkan bagian inferior yaitu laring, trakea, bronkus dan alveolus.

 

System respirasi bagian atas:

Hidung/nasal

nasal berfungsi sebagai saluran untuk udara mengalir ke dan dari paru-paru,  sebagai penyaring kotoran dan melembabkan serta menghangatkan udara yang dihirup ke dalam paru-paru. Nasal terdiri atas bagian eksternal dan internal. Bagian eksternal menonjol dari wajah dan disangga oleh tulang hidung dan kartilago, dilindungi otot – otot dan kulit, serta dilapisi oleh membrane mukosa. Nasal  eksternal berbentuk piramid dengan bagian – bagiannya dari atas ke bawah :

1. Pangkal hidung (bridge)

2. Dorsum nasi

3. Puncak hidung

4. Ala nasi

5. Kolumela

6. Lubang hidung (nares anterior)

Batas atas nasal eksternal melekat pada os frontal sebagai radiks (akar), antara radiks sampai apeks (puncak) disebut dorsum nasi.

Lubang yang terdapat pada bagian inferior disebut nares, yang dibatasi oleh :

  • Superior  :  os frontal, os nasal, os maksila
  • Inferior  : kartilago septi nasi, kartilago nasi lateralis, kartilago alaris mayor dan kartilago alaris minor

Bagian nasal internal  adalah rongga berlorong yang dipisahkan menjadi rongga hidung kanan dan kiri oleh pembagi vertikal yang sempit, yang disebut septum. Nasal internal terletak pada inferior tulang tengkorak  dan daerah superior bagian mulut. Nasal internal bagian anterior bergabung dengan nasal eksternal , sedangkan bagian posterior nasal berhubungan dengan faring. Pada anterior ronga nasal bagian dalam disebut vestibulum yang di lapisi oleh sel submukosa sebagai proteksi. Dinding samping bagian dalam dibentuk oleh etmoid, maxillae, lacrimal, palatine, dan tulang konka nasal inferior.

Faring

Faring terletak antara internal nares sampai kartilago krikoid dan memiliki panjang kurang kebih 13 cm dan berfungsi sebagai saluran respirasi dan saluran pencernaan. Faring terdiri dari:

  • Nasofaring adalah faring yang berbatasan dengan rongga hidung. Nasofaring mempunyai 4 saluran (2 saluran ke internal nares dan 2 saluran ke tuba eustachius). Nasofaring adalah tempat bertukarnya partikel udara melalui tuba eustachius untuk  keseimbangan tekanan udara faring dan telinga tengah.
  • Orofaring adalah faring yang  berbatasan dengan mulut. Terletak dibelakang rongga mulut dekat soft palate.
  • Laringofaring  adalah faring yang berbatasan dengan laring. Letaknya dimulai dari hyo id bone ke esophagus dan laring.

System respirasi bagian bawah:

Laring

Laring sering disebut sebagai kotak suara. Laring menghubungkan laringofaring dengan trakea. Terletak pada cervical ke 4 – 6. Dindingnya terdiri dari 9 kartilago yaitu:

v  3 kartilago tunggal yaitu:

a)    kartilago tyroid : kartilago terbesar pada trakea, sebagian dari kartilago ini membentuk jakun (Adam’s apple)

b)    kartilago epiglottis : daun katup kartilago yang menutupi ostium ke arah laring selama menelan

c)    dan kartilago cricoid. : satu-satunya cincin kartilago yang komplit dalam laring (terletak di bawah kartilago tiroid)

v  3 kartilago berpasangan yaitu:

a)    kartilago arytenoids : berperan penting dalam menghasilkan suara karena mengandung pita suara.

b)    kartilago cuneiform

c)    kartilago corniculate.

Trakea

Trakea merupakan tuba yang lentur dengan panjang sekitar 10 cm dan lebar sekitar 2,5 cm, terdiri dari otot polos dan cincin kartilago berbentuk C. Pada bagian belakang terdiri dari 16 – 20 tulang rawan.  Trakea terletak dibagian depan esophagus, dari laring sampai ke ICS V, dimulai dari bawah kartilago cricoid kebawah sampai pada sudut pertemuan manubrium sterni dan corpus sterni. Disini trakea membagi dua menjadi bronkus primer (bronkus principalis), sedangkan titik percabangannya disebut carina.

 

 

Bronkus

Bronkus merupakan percabangan dari trakea. Terletak pada ICS ke V dan terbagi menjadi bronkus primary kanan dan bronkus primary kiri oleh carina (bagian yang sensitif dan reflek batuk). Bronkus primary kanan terdiri dari 3 bronkus sekunder (superior, medial, inferior). Sedangkan bronkus primary kiri terdiri dari 2 bronkus sekunder (superior dan inferior). Bronkus sekunder ini bercabang lagi menjadi bronkus tertiary yang mempunyai 10 cabang. Cabang bronkus tertiary ini disebut bronkus terminalis, dan bercabang – cabang lagi menjadi bronkiolus. Bronkiolus bercabang semakin kecil menjaid ductus alveolus dan akhirnya berakhir di alveolus.

Alveolus

Alveolus merupakan suatu kantong udara dengan dinding yang tipis, disini terjadi pertukaran antara O2 dan CO2 secara difusi melalui alveolar dan dinding kapiler. Alveolus berada dalam alveoli yang dilapisi oleh epitel squamosa.  Didalam alveoli terdapat cairan alveolar yang di sebut surfaktan. Dinding alveoli terdiri dari 2 tipe sel epitel alveolar, yaitu:

  • Tipe I : sel epitel simple squamosa sebagai pusat petukaran gas
  • Tipe II : sel septal yang terdiri dari mukrofili dan secret alveolar untuk menjaga permukaan antara sel dan udara tetap lembab.

2.2 PROSES INSPIRASI DAN EKSPIRASI

Masuk dan keluarnya udara dari atmosfir ke dalam paru-paru dimungkinkan oleh proses inspirasi dan proses ekspirasi. Proses ini terjadi 12 – 16 kali permenit. Proses inspirasi dan ekspirasi kuat secara normal akan terjadi ketika kerja/olahraga, batuk, muntah, defekasi dan melahirkan. Proses  pernafasan  sebagai berikut:

Proses inspirasi (inhalasi)

Inspirasi (inhalasi) adalah proses masuknya O2 dari atmosfir & CO2 ke dalam jalan nafas. Proses ini disebut proses aktif karena otot – otot berkontraksi.  Otot – otot yang berperan dalam proses inspirasi adalah diafragma dan muskulus interkostalis eksternus, dengan dibantu oleh otot scalenus dan otot sternocleidomastoideus.

Berikut adalah proses inspirasi:

v  difragma dan muskulus interkontalis  eksterna berkontraksi

v   kubah difragma turun

v  Ruang dalam dada membesar

v  Muskulus interkostalis eksterna menarik dinding dada agak keluar

v  Tekanan dalam rongga dada lebih rendah dari tekanan udara luar

v  Udara masuk ke paru – paru

Proses Ekspirasi(exhalasi)

Ekspirasi (exhalasi) adalah keluarnya CO2 dari paru ke atmosfir melalui jalan nafas. Proses ini disebut proses pasif karena otot – otot berelaksasi. Otot – otot yang berperan dalam proses inspirasi adalah diafragma dan muskulus interkostalis eksternus, dengan dibantu oleh muskulus interkostalis interna dan rextus abdominis.

Berikut adalah proses ekspirasi:

v  difragma dan muskulus interkontalis  eksterna berelaksasi

v  tekanan rongga torax menurun

v  dinding torax  masuk ke dalam

v   udara keluar dari paru-paru

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Pernafasan adalah O2 dan CO2 dalam paru-paru, tepatnya dalam alveolus. Pernafasan sangat penting bagi kelanjutan hidup manusia.

Dalam saluran pernafasan atas terdiri dari:

  • Hidung
  • Faring

Sedangkan dalam saluran pernafasan bawah terdiri dari:

  • Laring
  • Dan trachea
  • Bronchus
  • Bronkiolus
  • Alveolus

 

3.2 SARAN

System – system dalam tubuh manusia sangatlah penting, khususnya system pernafasan. Maka dari itu jagalah dan lindungi sebaik mungkin organ – organ yang ada dalam tubuh kita sendiri, agar kita tetap sehat dan tidak rentan terhadap penyakit.

DAFTAR PUSTAKA

Syaifuddin.1997.Anatomi Fisiologi untuk Siswa Perawat. Jakarta:EGC.

http://blog.Ilmukeperawatan.com.

Bagian Fisiologi Fakultas Kedokteran Usakti.2010.Buku Penuntun Kuliah Fisiologi.Jakarta:Fakultas Kedokteran Usakti.

 

Belum Jodoh Say^-^

“Hayoooooooo…..”sebuah suara mengagetkanku pagi itu yang tengah duduk melihat PR yang belum rampung.

“haduh zadha jantungku hampir copot tauuu..”omelku pada cowok berparas ganteng nan putih itu. Hampir setiap guru mengenalnya, dia tidak begitu terkenal di sekolah, dia juga tidak aktif di organisasi sekolah, namun otaknya yang encer dan wajahnya yang gak jauh beda sama bintang korea itu membuat dia dikenal oleh setiap guru dan adik kelas kami.

“wah PR nya udah selesai pelit nih gak bagi – bagi….hmmmm lihat ah!“ jawab zaza tanpa memerhatikanku yang masih cemberut. Kami memang selalu bertukar pendapat mengenai pelajaran terutama mata pelajaran matematika dan fisika karema kami sama – sama menyukai hitungan,  kebetulan kami sudah dua tahun ini satu kelas jadi membuat kami semakin dekat dan merasa tidak canggung satu sama lain.

“tuh kan belum selesai, makanya tanya dulu zadha jangan maen ambil aja, karena kamu udah ambil bukunya selebihnya yang belum, kamu yang ngerjain yah. Ok hehehe” kataku sambil melangkahkan kaki ke luar kelas.

“Heyyyyy mau kemana?” Tanya nya tak terima. “Mau sarapan dulu…”teriakku dari luar.

Hari itu pelajaran pertama adalah fisika, disusul b. Indonesia, lalu istirahat dan diakhiri oleh pelajaran tata boga.

Seperti biasa hari itu berlangsung lancar tanpa ada kendala.

“Aya hari ini kita ngerjain PR dulu yuk,,, aku pengen diskusi pelajaran tadi soalnya masih kurang ngerti nih, bantuin yah.. yah.. yah.. “ pinta indah dengan muka melasnya itu. Indah adalah teman baikku, rumahnya dekat dengan rumahku, bahkan seperti saudara, entah kenapa walaupun rumah kami berdekatan dia memaksa ingin belajar di sekolah aja. mungkin dia ingin lebih fokus kali ya..

“berani bayar berapa nih hehehe…” jawabku dengan nada bercanda.

Sore itu kamipun belajar bersama mengulang bahasan fisika tadi pagi. Zadha hari itu juga pulang telat, dia ada rapat ekskul khusus para cowok. Zadha anak bantara lho hehehe…..

Ditengah keasyikan kami membahas fisika tiba – tiba zadha datang dengan wajah lesu.

“kenapa ada masalah?”tanya indah dengan serius

“hehehe nggak, Cuma agak dehidrasi nih, ekhem pengen minum.” Sambil melirik botol minuman yang ada diatas meja.

“jah… bilang aja minta minum.hehehe”jawabku meledek

“hehehehe” zadha dan indah ikut tertawa.

“hmmmmmmmm lumayan terobati”kata zadha setelah minum.

“oh iya, apa anggota lain sudah dikasih tau kalau dana untuk camping minggu depan kurang, tadi seksi humas dan ketua putra sedang mencari jalan keluar..”kata zadha mulai bercerita.

“Wah belum za,mungkin baru kalian aja, rapatnya kan besok sekalian pulang ekskul, biar pada kumpul” jelasku memberitahu.

“iyah rencananya kami akan mengusulkan minta partisipasi dari anak – anak kelas sepuluh, kalau masih kurang paling – paling kas pramuka yang di pakai, buat kemaslahatan umat ini hehehe”jelas indah menambahi.

Diskusi kami sore itu selesai setelah menyelesaikan latihan beberapa soal fisika yang sedang kami bahas.

***

Malam itu di rumahku

“trok..tok..tok..”

Siapa yang bertamu malam – malam gini kataku dalam hati. Akupun bergegas membukakan pintu dan mendapati seseorang didepan sana.

“indah…” kataku dengan alis mengernyit.

“aya hehehe…belum tidur kan? Maaf yah ganggu malam – malam, aku mauuuuu….” tiba – tiba perkataan indah terpotong.

“Mau apa???” tanyaku dengan nada penasaran

“minta nomer HP zadha donk!!!”sentaknya yang terihat malu malu dan salah tingkah.

Tak begitu lama aku membawa HP ku dan menyebutkan satu persatu nomor HP cowok manis itu, setelah mendaptkan yang diinginkannya indahpun pulang kembali ke rumahnya.

Memang wajah indah terlihat senang jika bertemu dengan zadha mungkin saja temanku itu suka dengan cowok ganteng itu, kelihatan banget sih apalagi kalau melihat aku dan zadha akrab dikelas, indah seperti cacing kepanasan dan langsung menarikku ke kantin lah, ke perpustakaan lah, ke mushola lah, banyak sekali alasannya. Pikirku dalam hati yang malam itu membuatku susah tidur memikikannya.

***

Pagi – pagi sekali aku sudah berangkat kesekolah, entah kenapa hari itu aku enggan beangkat bersama indah, pikiranku malam itu masih ada saat pagi – pagi aku terbangun dan berangkat sekolah.

“ayolah aya apa yang kamu pikirkan??? Kalaupun indah suka sama dia kenapa kamu yang kesel?? HAH?? Kesel?????” gerutuku pagi itu didalam kelas yang kebetulan hanya aku yang baru tiba dikelas sebelas IPA dua.

Beberapa menit kemudian kelas langsung berubah ramai, anak – anak mulai datang dan ribut dengan PR hari ini. Zadha datang menhampiriku sebelum duduk di kursinya, zadha duduk tepat di belakang kursiku, ini merupakan kebiasaannya setiap pagi.

“paagii…”sapanya. aku masih belum sadar ada zadha didepanku, aku masih memikirkan kejadian semalam.

Sadar aku tak memberikan respon zadha menarik kerudungku dari belakang. ”busyet dah sombong banget ya…”katanya lagi berharap aku memberikan sebuah respon.

“hah? Apa? PR aku udah selesai nih , jangan lupa koreksi yah” jawabku sambil memberikan buku PR yang daritadi hanya aku lihat saja.

“ihhhh siapa yang nanyain PR? hehehe” ledeknya menanggapi responku yang tidak nyambung. Aku hanya senyum kecil merasa malu karena apa yang aku pikirkan telah membuatku salah tingkah.

“Kenapa? Ko gak nyambung pagi – pagi non?” tanyanya serius. Aku terdiam.

“kenapa?” kali ini nadanya agak teriak.

“kamu pikir telingaku ini sedang infeksi sampe – sampe kamu teriak – teriak kayak gitu…” jawabku dengan nada mengeluh

Zadha beranjak dari kursinya dan duduk disampingku. Aku mulai deg – degan dengan tingkahnya, padahal ini sering ia lakukan namun entah kenapa setelah aku mulai memikirkan sikap indah pada zadha akhir – akhir ini yang mengisyaratkan kalau indah menyukai cowok yang duduk disampingku, sepertinya aku tidak terima kalau hal itu benar – benar terjadi, aku bingung, apa aku juga menyukai zadha? Ah mana mungkin kami hanya berteman, gak lebih! Kataku dalam hati yang berusaha menenangkan pemikiranku saat ini yang sedang galau.

“gak tau nih, bingung..”kataku setelah lama aku terdiam

“bingung kenapa? Masalah cowoknya yah heheh” tanggapnya menggoda.

“yeeeh aku gak punya pacar kali, mau sekolah dulu, kalau pacaran gampang za, besok juga jadi hehehe”jelasku mulai mengeles.

“aku juga untuk saat ini aku gak pacaran dulu, lagian nggak ada untungnya buatku, kalau untuk penyemangat dalam belajar menurutku sih untuk saat ini aku udah semangat banget sekolah” jelasnya panjang lebar dengan nada serius.

“Lagi pula aku tuh pengen kalau punya pacar yang umurnya dibawah aku paling nggak tiga atau empat tahunan lah biar ideal gitu hahaha” sambungnya entah serius atau hanya gurauan semata.

“hahaha biar ceweknya nggak kelihatan tua yah? Kata orang tua zaman dulu, cewek itu lebih cepat tua lho..”tambahku dengan nada bercanda untuk mencairkan suasana. Aku sadar sepasang mata sedang memerhatikan kami saat itu, yah mata indah selalu memerhatikan tingkah laku aku dan zadha pagi itu.

Lima belas menit setelah bel berbunyi guru tata boga baru masuk, kamipun duduk ditempat masing – masing.

Pelajaran tata boga saat itu mempelajari membuat keset dari percak kain bekas, kelas di bagi lima kelompok yang terdiri dari 8 orang, sengaja aku menjauh dari zadha agar kami tak sekelompok. Maafkan aku tapi aku takut menyakiti hati indah meski aku tak tahu sebenarnya perasaan indah pada zadha.

***

Jam 14.15 tepat bel berbunyi menandakan waktu pulang telah tiba.

Namun hari itu ada ekskul pramuka, sebagian pengurus mengisi acara dengan anak kelas sepuluh, sebagian lagi rapat membahas dana camping yang kurang. Dari hasil rapat disepakati panitia akan meminta partisipasi dari siswa kelas sepuluh dan para panitia.

***

Tepat jam 16.00 kami menyudahi acara kami sore itu setelah sebelumnya melaksanakan apel sore. Pradana (Ketua putra) menjadi pemimpin apel sore itu dan kamipun pulang.

Seperti biasa aku pulang bersama – sama dengan indah setelah tadi malam aku berpikiran jauh tentang perasaan indah pada zadha, namun aku sadar walaupun aku menyukai zadha aku tak mungkin mendapatkan cintanya seperti yang telah dia katakan padaku tadi pagi kalau ia ingin punya pacar yang umurnya berada dibawahnya, jika aku memaksakan perasaanku itu hanya akan menyakitiku sendiri dan akan membuat persahabatanku dengan indah berantakan jika indah menyukai orang yang sama.

“Aya makasih yah kamu udah ngasih nomer HP zadha, maaf aku belum cerita sama kamu tapi kayaknya aku suka deh sama dia..” kata indah diperjalanan pulang.

Apa???? Tuhkan benar apa yang aku pikirkan selama ini ternyata indah memang suka sama zadha. Kataku dalam hati

“oh iyah?? Semalam gimana? Udah sms’an dong. hehe” jawabku dengan menyembunyikan rasa kecewaku karena dugaanku selama ini benar.

“iyah, malam ini aku mau ngomong sama dia kalau aku suka sama dia. Doa’in yah ya semoga lancar?” pintanya memelas, dia tidak tahu kalau diam – diam aku juga menyukai zadha.

“Iiya aku doa’in semoga kalian jadian” jawabku sedikit gagap.

Indah langsung lari ke rumahnya sepertinya dia senang dengan jawabanku yang menandakan kalau aku setuju dengan langkahnya.

***

Malam harinya…

Sudah pukul 22.00 aku belum juga bisa memejamkan mataku seolah masih belum percaya perkataan indah tadi sore dan membayangkan asyiknya indah sms’an dengan zadha, atau mungkin sekarang mereka sedang sms’an sayang – sayangan…

Tiba – tiba HP ku berbunyi menandakan pesan masuk. Setelah kulihat

1 pesan diterima from indah

Dengan hati dag dig dug aku menekan tombok “view”

dia belum bisa menerimaku saat ini T.T

ahhhh syukurlah walaupun arti sms itu zadha bisa menerimanya disaat yang akan datang, yang penting saat ini dia benar – benar menjalankan kata – katanya untuk tidak berpacaran dulu. Semoga perasaanku hanya bersifat sementara dan kelak jika dia telah mempunyai pasangan aku tidak akan merasakan sakit hati seperti yang dirasakan indah saat ini. Maafkan aku indah bukannya aku sahabat yang kejam, namun jika kamu mengetahui perasaanku mungkin ini akan membuatmu lebih sakit hati lagi.

Malam itu akupun tertidur setelah membalas sms dari indah

Belum jodoh say, sabar yah ^-^.

the first page of my blog :)

semangat pagi :D
percobaan, tes tes..
ini catatan pertama dari blogku..

perkenalkan, nama saya sri.
selamat menikmati blog ini :)

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.